We Can Do The Great Thing For God, when We Do A Little Things For Others

When We Love God, We Will Serve People

Minggu, 29 April 2012

Hore ! Aku Sekolah


Aku sangat bahagia, aku bisa masuk sekolah. Tuhan terima kasih, mimpiku untuk bisa mengecap dunia pendidikan.
Aku mengikuti pelajaranku di SD N No. 040531 Dokan dengan penuh semangat. Aku suka sekali belajar. Aku menyimak setiap pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan penuh perhatian. Tidak lain, tujuanku adalah aku ingin menjadi anak yang pintar.
Caturwulan pertamapun berlalu, aku menjadi salah satu bintang kelas. Aku senang sekali. Demikianlah aku menjalani sekolahku sampai kelas 6. Setiap caturwulan prestasiku baik, menjadi bintang kelas dan lulus dari SD dengan nilai akhir yang sangat memuaskan. Akupun menlanjutkan sekolahku ke SLTP Negeri 1 Tigapanah. Keinginaku tetap sama, aku harus memberikan yang terbaik dan harus bisa membuat keluargaku bangga. Aku ingin mengulang prestasiku di waktu SD, dan kalau bisa aku memperoleh prestasi yang lebih baik. Di sekolah baruku ini, siswanya berasal dari berbagai desa. Aku menyadari sainganku lebih banyak, dan aku tidak mengenal sama sekali bagaimana karakter mereka, seberapa pintar mereka, seberapa rajin mereka belajar, jadi intinya aku harus belajar lebih keras lagi.
Aku masuk di kelas unggulan, dimana pada kelas ini berkumpul siswa-siwa yang memiliki nilai akhir ujian SD tertinggi. Akupun semakin tertantang, ditambah lagi suasana kelas yang sangat menyenangkan. Aku memiliki teman-teman baru dan semua mereka pintar-pintar. Akupun banyak belajar dari mereka. Aku sangat menikmati masa-masa sekolahku di SLTP ini.
Proses belajar-mengajar yang sangat menyenangkan sudah dimulai. Aku menikmati setiap prosesnya. Ulangan harian pun menyusul dan aku harus memberikan yang terbaik. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, berharap hasilnyanya akan baik. Hampir setiap mata pelajaran yang aku ikuti, memiliki nilai ulangan yang sesuai harapanku. Akupun mulai dikenal oleh para guruku, melebihi para teman-temanku yang lain. Aku senang sekali, tetapi aku tetap tidak sombong dan ingin tetap fokus pada tujuanku. Ujian caturwulan belum datang, dan aku harus tetap rajin belajar serta menikmati setiap prosesnya.
Caturwulan pertama pun sampai, aku persiapkan diriku sebaik mungkin menghadapi ujian. Puji Tuhan sebagian besar dari soal-soal ujian yang diberikan aku bisa menjawabnya dengan benar. Tetapi kau belum yakin, kalau aku akan menjadi yang terbaik. Tetapi tidak apalah, yang penting aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Bagianku sudah aku kerjakan, sekarang Tuhan yang menentukan hasilnya.

Pada saat sebelum diumumkan hasil evaluasi keseluruhan caturwulan pertama, aku sangat deg-degan. Menurut informasi yang aku dengar dari kakak kelas, yang berhasil memproleh nilai 3 terbaik dari setiap kelas akan dipanggil namanya dan berdiri didepan didampingi oleh orang tua siswa.  Aku sangat ingin menjadi salah satu yang dipanggil dan ingin sekali membuat orang tuaku bangga. Upacara pengumuman para bintang kelas pun dimulai, akupun tidak sabar menantikan pengumuman itu. Aku harap-harap cemas. Tibalah pengumuman juara kelas di kelas 1.1. jantungku berdegup lebih kencang. Aku sangat mengharapkan namaku boleh disebut. Harapanku menjadi kenyataan, aku mendapat rangking 2 kelas unggulan. Puji Tuhan… aku senang sekali. Prestasi itu tidak membuat aku berpuas diri, aku harus belajar lebih giat lagi. Usahaku membuahkan hasil, kerja kerasku tidak sia-sia. Tuhan memberkati aku, dan setiap caturwualan berikutnya namaku selalu dipanggil ke depan dan aku selalu mendapat peringkat 1 kelas unggulan sampai kelas 3 SLTP. Yang lebih membangkannya lagi, aku bahkan bisa menjadi siswa yang memiliki nilai ujian akhir nasional tertinggi di tingkat kecamatan. Thanks God banget…

Kecelakaan itu… Jahat!!!


Tahun berikutnya pun datang, badan bertambah besar. Aku yakin, aku bisa sekolah di tahun ini. Secara informal, keluargaku sudah berkomunikasi dengan pihak sekolah, yang kebetulan adalah kerabat dari orangtuaku. Dengan pertumbuhan fisik dan umur yang sudah melebihi usia anak kelas 1 SD, aku dan keluargakupun yakin, bahwa aku bisa masuk sekolah tahun ini.
Berbagai persiapanpun dimulai; seragam sekolah; tas; buku; sepatu dan berbagai keperluan detail lainnya. 1 hari sebelum aku masuk sekolah, kemalanganpun datang, bapakku, abangku dan aku sendiri mengalami kecelakaan. Motor yang dikendari oleh bapakku itu beradu kepala dengan sebuah mobil yang melaju kencang dari arah yang berlawanan. Bapakku tidak sadarkan diri sampai beberapa saat, namun setelah sampai di rumah sakit, bapak ternyata hanya syok dan mengalami luka ringan saja di daerah kepalanya. Abangku, mengalami patah tulang dan harus menjalani fisio terapi selama lebih kurang 2 bulan. Aku… mengalami luka yang paling parah. Tubuh disebelah kananku, banyak mengalami luka. Aku mengalami cedera kepala terbuka yang cukup parah. Tengkorak dikepalaku bahkan sampai terlihat. Pundakku juga luka dan lutut kananku mengalami dislokasi yang sangat parah.
Pada saat kejadian aku masih sadarkan diri. Aku tergeletak dipinggir jalan raya. Aku hanya bisa menangis menahan rasa sakit.  Darah mengalir, keluar dari kepalaku.. Aku tidak ingat persis bagaimana kronologis kejadian itu. Kami segera ditolong oleh warga sekitar tempat kami mengalami kecelakaan. Kami dibawa kerumah sakit terdekat. Aku tidak melihat satupun anggota keluargaku. Aku ingin sekali bisa melihat mereka sesegera mungkin.
Bapak dan abangku masih dapat ditangani untuk sementara di rumah sakit umum itu, tetapi aku mengalami perdarahan hebat. Aku masih ingat ketika petugas rumah sakit membersihkan luka dikepalaku. Aku sangat kesakitan. Banyak pasir dan kotoran yang masuk keluka dikepalaku. Aku merasakan bagaimana kotoran-kotoran itu dikeluarkan sedikit demi sedikit. Pasir atau kerikil atau apa lah itu, rasanya menari-nari menginjak lukaku. Rasanya sakit sekali.  Setelah aku mendapatkan pertolongan pertama, aku harus segera dirujuk kerumah sakit yang lebih besar dan peralatannya lebih memadai. Lukaku dibebat seadanya dan aku segera dirujuk kerumah sakit umum kabupaten di darehku, yaitu rumah sakit umum Kabanjahe. Segera aku dibawa ke urang UGD (Unit Gawat Darurat) untuk dilakukan pertolongan terhadapku. Aku  tidak tahu bagaimana aku bisa ditolong. Berbagai pemeriksaan fisik dilakukan terhadap diriku. Dilakukan rongent kepala, dada dan kakiku, serta pemeriksaan lainnya.
Aku ketakutan. Rasa sakit yang aku alami menghantarkanku kepada suatu ketakutan yang luar biasa, yaitu kematian. Aku sangat kematian. Aku tidak mau berpisah dengan ibuku, aku tidak mau jauh dari bapaku, aku tidak mau kehilangan harapan-harapanku. Ditengah-tengah aku sedang ditolong, aku masih sempat melihat bayangan ibuku menatap aku, sambil menangis. Pada saat itu aku benar-benar merasakan bahwa ibuku sangat menyayangi aku. Aku juga bisa merasakan kalau ibuku juga takut melihat peristiwa mengerikan itu. Rasa takutku semakin menjadi-jadi. Aku semakin takut. Aku belum siap untuk mati.
Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menikmati masa depanku yang penuh harapan. Tibalah aku diruang perawatan. Ibuku langsung memelukku, sambil menangis. Mengelus-elus wajahku, mencium aku, menatapku sambil menguraikan air mata. Aku pun ikut menangis, aku berkata: “Ma, aku takut. Aku takut mati, jangan tinggalkan aku”. Ibuku, menenangkan aku dan memberiku keyakinan bahwa aku aku tidak akan mati, dan akan sehat kembali.
Hari berganti hari, aku merasakan kepalaku semakin sakit. Aku sangat tersiksa dengan keadaanku. Luka dikepalaku terasa sangat sakit, nyut-nyutan seperti ditusuk- tusuk duri. Ternyata luka itu mengalami infeksi, bahkan sampai mengeluarkan pus/nanah. Keadan itu, membuat kelurgaku untuk berfikir dan mengambil keputusan kalau aku akan pindah kerumah sakit swasta. Aku dipindahkan kerumah sakit Flora di kota yang sama.  Dirumah sakit ini, aku dioprasi kembali. Lukaku dibersihkan, sehingga aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Dirumah sakit ini pula kakiku yang mengalami dislokasi, dipulihkan. Prosesnya melakukan perawatan kolaboratif antara rumah sakit dan pengobatan tradisonal.
Pada hari dimana direncanakan untuk merelokasi kakiku, aku dibuat merasa sangat nyaman. Aku tidur pulas sekali. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku merasakan ada yang menahan tanganku, badanku dan seluruh tubuhkau. Aku tidak bisa bergerak. Belum sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba aku merasakan sakit yang sangat luar biasa. Aku terbangun, dan aku melihat bebera orang menahan tubuhku, agar aku tidak bisa berontak saat dilakukan apa yang mereka telah rencanakan. Kakaiku di tarik ke posisi semula tanpa ada inform consent/surat persetujuan dari aku.  Aku menangis keras sekali. Meraung-raung menahan sakit. Aku bisa mendengar bunyi yang dihasilkan oleh tulang yang saling bergesekan dilutuku. Sakit sekali. Setelah itu, berangsur-angsur luka di kepala dan lututku mengalami perbaikan.
Aku bersyukur aku masih diberi kesempatan untuk menjalani hidupku, walaupun harapanku lagi-lagi harus tertunda, yaitu untuk bersekolah.  Aku menjalani rawat inap sekitar 1,5 bulan. Setiap teman-temanku yang datang menjenguk aku di RS, yang rencananya di tahun ini kami sekolah bareng, ada perasaan cemburu dan ingin seperti mereka. Tapi rasa itu segera kutepis, karena aku yakin, tahun ini belum tepat untuk aku masuk sekolah. Belum lagi, aku harus rutin kontrol ke rumah sakit, untuk meyakinkan kalau aku dalam kondisi baik.
Sementara abangku, masih bisa melanjutkan sekolahnya tanpa harus tertinggal karena menunggu 1 tahun lagi, saat itu abangku sudah duduk di kelas 4 SD. Aku turut senang, mendengar berita itu. Kebahagiaan abangku adalah kebahagianku juga.
Setelah aku dibolehkan pulang untuk rawat jalan, keluarga besarku mengadakan pesta syukuran. Semua keluarga, sahabat dan warga kampung diundang untuk ikut merayakan kebahagian atas berkat Tuhan yang luar biasa buat keluarga kami.

Aku Ingin Sekolah



Aku tidak ingat persis bagaimana masa-masa kecilku sehingga aku dibesarkan. Tetapi yang ku ingat, aku akan ceritrakan disini. Aku terlahir sebagai anak bungsu. Pada saat aku berumur sekitar 5-6  tahun, semua kakak aku, sudah bersekolah, ada yang SD, SMP dan SMU, tinggal aku sendiri yang belum sekolah. Melihat mereka, aku ingin sekali cepat-cepat masuk sekolah. Buku-buku mereka sering sekali ku otak-atik. Aku belajar, bagaimana bentuk huruf-huruf.  Tidak jarang, aku berantam dengan kakak-kakakku karena ulahku yang sering “meminjam” buku mereka, aku bermaksud untuk membantu mereka mengerjakan tugas mereka. Akhirnya, aku dimarahi oleh kakak dan orangtuaku dan dilarang untuk ikut campur dalam urusan buku.
Tapi aku tidak menyerah, keinginan yang begitu kuat dan rasa penasaran yang menggebu, sering sekali mengajak aku untuk berbuat nekat. Tetap saja aku dengan cara diam-diam membuka buku-buku mereka. Aku ingin sekali menjadi anak yang pintar. Aku buka buku bacaan, aku meniru bagaimana cara menulis, meniru bentuk huruf-huruf dan apa saja seperti yang ada dalam buku. Aku menggunakan begitu banyak buku untuk dicorat-coret. Alhasil, aku kena marah lagi. Aku sedih banget, sedih karena tidak difasilitasi dengan baik terhadap keinginanku untuk belajar. Aku mencari cara lain untuk dapat belajar. Aku dilarang untuk menulis dibuku, mungkin aku lebih baik kalau aku menulis di tempat lain, pikirku. Pada saat aku sendirian dirumah, aku ingin memberikan kejutan kepada keluargargaku, aku ingin membuat mereka bangga, bangga karena memiliku aku, seorang anak yang pintar. Aku pun mengekspresikan kepintaranku dalam bentuk tulisan. Aku pun menulis di dinding rumah kami, tidak hanya dinding, jendela dan pintu juga tidak terlepas dari tangan pintarku. Aku senang sekali, rasanya bebas tanpa merasa takut dimarahi lagi. Justru aku berharap kalau aku mendapat pujian dari keluargaku, terutama orang tuaku. Hal itu dikarenakan karena aku sudah menulis dengan sangat baik. Itulah perkiraanku.
Tibalah saat yang kunantikan. Aku mendengar suara kedatangan keluargaku dari kejauhan. Aku membayangkan ekspresi kebanggan memancar dari wajah ayah ibuku, ketika melihat mega karyaku yang pertama. ;)
Tapi yang terjadi malah sebaliknya, sesaat setelah mereka melihat tulisanku, aku langsung dibentak, dimarahi (lagi) dan disuruh membersihkan tulisanku yang telah dengan susah payah aku buat. Dengan berurai air mata, aku menghapus tulisanku itu. Tapi aku tidak membenci orang tuaku, aku menghargai sikap mereka. Mungkin cara mereka saja yang kurang tepat memperlakukan aku seperti itu.
Waktu terus berjalan, dengan berbagai cara aku tetap berusaha untuk belajar, karena aku ingin  sekali menjadi anak pintar. Aku ingin segera sekolah karena aku adalah anak yang punya cita-cita.
Waktu yang aku nantikanpun datang, aku sudah berumur 7 tahun lebih, saatnya aku didaftarkan oleh orang tuaku untuk masuk sekolah dasar. Aku senang sekali berharap aku bisa sekolah di tahun ini. Hari itu aku bangun lebih cepat dari biasanya, aku pun didaftarkan oleh Bapak saya. Tapi aku tidak diterima, karena badanku kecil. Jauh lebih kecil dari teman-teman seumuranku. Sementara bangku sekolah yang tersedia di daerahku sangat terbatas. Sehingga dengan terpaksa pihak sekolah harus menolak aku pada saat itu, walaupun dari segi umur, aku selayaknya sudah dapat masuk sekolah.
Tapi tidak apalah, masih ada tahun depan yang setia menanti. Kepasrahanku ternyata belum mampu membuatku nyaman seutuhnya. Setiap kali aku melihat teman-teman seumuranku mengenakan seragam sekolah, keinginanku kembali menyiksa aku. Aku iri pada mereka, aku iri mereka dapat sekolah. Rasa itu kerapkali menghinggapiku, manakala pemandangan yang sama menjamu mataku.

Hari Yang Bersejarah



5 Mei 1985, tepatnya hari Minggu matahari bersinar indah dan cerah, udara yang segar dan suasana pagi yang ceria. Sama seperti hari-hari sebelumnya, yang selalu dianugrahkan Tuhan kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Tetapi khusus pada hari itu, merupakan hari yang bahagia dan akan diperingati setiap tahunnya sebagai hari yang bersejarah dalam lengkapnya hidup sebuah keluarga yang saling mencintai. Anak ke-6 lahir dalam keluarga yang sederhana di sebuah desa budaya yang sejuk. Seorang anak laki-laki dan cukup sehat. Yang aku tahu, aku berasal dari keluarga kebanggaanku, yang rukun harmonis. Ayah dan ibuku, 3 orang kakak perempuanku dan 2 orang kakak laki-lakiku sangat menyayangi diriku, aku tahu itu dan aku juga sangat sayang kepada mereka.
Anak itu diberi nama  Leo dengan nama keluarga Ginting dan setelah dibabtis diberi nama tambahan sehingga nama tersebut identik dengan seorang anak yang terlahir dalam keluarga Katolik Roma dan nama anak tersebut  menjadi Leosius Ginting, dan itu adalah Aku.

Selasa, 24 April 2012

Tahun Baru, Hidup Baru

Selamat tahun baru!!! hehehe..
Aku secara khusus sangat bersuka cita buat anugrah Tuhan ini, kita masih diberi kesempatan untuk menapaki tahun ini, tahun 2012, yang artinya kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan berhubungan lebih baik lagi dengan Tuhan dan sesama.
Secara umum, tahun baru disambut dengan penuh suka cita, pesta kembang api, ajang untuk berkumpul dengan keluarga dan para sahabat, makan-makan, dan masih banyak lagi yang dilakukan dalam menyongsong tahun baru ini.

Aku juga mengalami hal itu dan satu hal yang paling penting yang tidak lupa aku lakukan adalah berdoa dan membuat komitmen bahwa aku harus mengalami hidup baru, hidup yang terus diperbaharui di dalam Tuhan, berkomitmen menjalankan HPDT dan HPDS yang lebih baik. Didalam Tuhan aku pasti bisa!! amin..
1 Januari 2012 sampai seterusnya, aku berusaha akan menjadi lebih baik lagi...Bantu ya Tuhan.. Tuhan memang baik...
:)

NB:
Tulisan ini aku buat enah kapan, dipublikasikannya juga entah kapan...
hhehehehehe

Mari Berjuang

Untuk menjadi sesuatu yang diinginkan memang memerlukan perjuangan. Ya perjuangan untuk mencapai sasaran dan target. Saya baru membaca sebuah artikel dalam sebuah buku yang sangat bagus terkait perjuagan ini. Dalam buku itu dijelaskan dengan sangat rinci tentang perjuangan orang-orang yang pada akhirnya memproleh kemenagan dalam perjuangannya.

Saat inipun aku sedang berjuang. Apa yang sedang aku perjuangkan? Banyak sekali! Sampai-sampai aku kesulitan untuk me-list hal-hal yang ingin aku peroleh. Tetapi dari sekian banyak yang aku perjuangkan itu dapat aku simpulkan dalam satu kata yang sangat sederhana. Kata yang selalu ingin dimiliki dan sangat diidam-idamkan semua orang. Untuk mencapai apa yang disebutkan dalam kata ini, banyak orang melakukan hal-hal yang aneh atau melakukan tindakan kriminal.
Tetapi aku ingin memprolehnya dengan cara dan jalan yang benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan.  Kata itu adalah "BAHAGIA".

Temans, aku yakin kita semua ingin bahagia. Mari kita kejar kebahagian itu dengan perjuangan yang benar. Perjuangan itu memang butuh proses yang kadang kala sangat menyita waktu, tenaga, pikiran ataupun materi. Tetapi dalam perjuangn itu pada akhrinya akan mendatangkan kebahagiaan. Malahan, dalam proses berjuang itupun kita bisa mendapatkan kebahagiaan. Kuncinya adalah "Beryukur". Bersyukur atas apa yang bisa kita alami dan nikmati saat ini. Kita harus menghargai apa yang sudah kita proleh sekarang. Yakinlah, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi dimasa depan.

Mari berjuang dengan tetap penuh pengharapan dan tetap menysukuri apa yang telah dianugrahkan Tuhan dalam hidup kita.

Selamat Berjuang!!