Suatu ketika, Mamak menanyakan dan meningatkan aku, kapan aku
akan berangkat ke Jakarta untuk daftar ulang. Soalnya, aku sepertinya
santai-santai saja, tanpa mencari informasi kapan daftar ulang itu dilakukan.
Mamak mendesakku untuk bertindak segera. Akupun menghubungi dan bertanya kepada
salah satu teman yang sudah berada di UI. Katanya: “Pendaftaran ulang berakhir
dalam 2 hari ini”, akupun langsung panik. Dalam 2 hari aku harus mempersiapkan
semuanya untuk keberangkatanku ke Jakarta: tiket pesawat belum ada, siapa yang
menemani aku ke Jakarta belum tahu, uang belum dipersiapakn berapa jumlah yang
harus dibawa, sesampainya di Jakarta kami tinggal dimana, UI dimana letaknya
kami sama sekali tidak tahu, dan lain-lainnya.Aku langsung memberi kabar itu kepada keluargaku. Orang tuaku pun
langsung mencarikan tiket pesawat untuk jadwal penerbangan besok paginya.
Orangtuaku dan keluargaku bahkan aku sendiri belum menyiapkan
hati untuk hal ini. Agak syok dan panik, semuanya disiapkan dalam 1 hari
sebelum keberangktanku. Keluargakupun mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan
dan berdoa bersama. Jakarta, I am coming.
Aku menyebutnya penentuan masa depan karena melalui keputusan
yang akan aku ambil itulah gambaran bagaimana aku akan hidup, dibidang apa akan
aku bekerja dan bagimana aku akan menghabiskan hidupku. Tentunya tidak terlepas
dari campur tangan Sang Maha Kuasa. Masa itu adalah masa dimana aku harus
memilih jurusan apa yang akan aku ambil di dunia perguruan tinggi, yang menjadi
cikal bakal pekarjaan yang akan aku geluti.
Setelah ujian nasional ditingkat SMU, aku belum yakin aku mau
masuk jurusan apa pada saat kuliah nantinya. Aku mengikuti berbagai bimbingan
belajar sebagai persiapan aku ikut SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Aku dapat informasi dari beberapa orang kalau
masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntasi Negara) akan memiliki masa depan yang baik, kuliah
dibiayai dan setelah lulus kuliah juga langsung dapat kerja (penempatan kerja).
Wow, keren tuh kayaknya. Jadi seketika itu juga aku memutuskan untuk mau masuk
STAN. Aku tinggalkan bimbelku, aku ikut kursus untuk persiapan ujian masuk
STAN. Aku belajar giat untuk STAN ini.
Aku tidak mau mengabil risiko jadi aku ikut ujian STAN dan
SPMB juga. Yang menjadi masalah sekarang adalah SPMBnya. Aku belum tahu mau
ambil jurusan apa. Yang aku tahu bahwa UI (Universita Indonesia) dan ITB
(Institut Teknologi Bandung) merupakan universitas yang sangat difavoritkan di
Indonesia. Ditengah-tengah kebingunganku akan masa depan, aku memilih 2
universitas itu sebagai target dan tujuan masa depanku setelah STAN. Tapi mau
juruasn apa???
Bingung… Aku coba buka buku yang bersisi tentang
juruan-jurusan yang ada di universitas. Setelah aku liat,
banding-bandingkan,piker-pikirkan, sepertinya jurusan FIK UI (Fakultas Ilmu
Keperawatan) dan Teknik Geologi ITB adalah jurusan yang cocok untukku, aku
pasti bisa lulus di salah satu jurusan itu, yang manapun dari 2 itu, yang
terpenting aku bisa lulus di univeritas yang banyak diidam-idamkan di negeri
ini. Yah walapun nantinya aku tidak lulus di STAN, aku masih bisa punya
cadangan yang lain. Itu artinya 2 untiversitas itu adalah tujuanku setelah
STAN. Itu akan membuatku cukup berbangga hati.
Aku ikuti ujian STAN dan SPMB. Pengumuman hasil SPMB lebih
dahulu keluar dari hasil ujian STAN. Hasil SPMB menyatakan aku lulus di FIK UI,
sementara hasil ujian STAN belum keluar. Aku masih berharap kalau aku bisa
lulus di STAN dan sambil menunggu pengumuman itu aku harus melakukan daftar
ulang di FIK UI, sebagai cadangan bagimana masa depanku. Oke, keputusan itu
telah aku ambil, aku tidak boleh mengambil risiko, aku akan melakukan daftar
ulang di FIK UI.
Aku menyadari satu hal yang menyebabkan aku belum nyaman
adalah, ketidaksiapanku berpisah dengan kedua orang tuaku. Aku masih sering
sekali mengingat dan membayangkan mereka bekerja keras di ladang. Selama ini,
aku bisa membantu mereka, meringankan beban mereka. Apalagi pada saat itu,
beternak kerbau masih menjadi salah satu rutinitas keluargaku. Aku sedih
membayangkan itu semua, orang tuaku harus mengerjakan semuanya tanpa dibantu
orang lain. Tanpa aku, yang selama ini masih bisa meringankan beban mereka
untuk mengurusi kerbau dan pekerjaan kecil lainnya. Aku sedih sekali, air matapun
menetes dan membasahi pipiku. Aku sedih setiap kali aku mengingat orang tuaku
dan itu juga yang memotivasi dan memberi semangat kepadaku, agar aku bisa
bertahan dan membetahkan diri di kota ini. Aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar
orang tuaku dijaga dan diberi kekuatan serta kesehatan. Aku sangat menyayangi mereka. Aku semakin
menyadiri kalau keluarga adalah salah satu kado terindah yang dianugrahkan
Tuhan dalam hidupku.
Dalam rasa gundah gulana yang aku alami itu, aku menanamkan
satu tekad bahwa aku harus memberikan yang terbaik dalam sekolahku dan membuat
keluargaku menjadi bangga kepadaku. Aku harus rajin belajar dan tidak boleh
neko-neko. Aku harus selalu di jalan yang lurus dan benar. Aku tidak boleh
membuat orang tuaku dan keluarga besarku kecewa dan membiarkan usaha dan kerja
keras mereka berlalu begitu saja, tidak boleh sia-sia tanpa memberikan sesuatu
yang membuat mereka tersenyum. Senyum kebanggan yang dari Tuhan.
Aku menyadari, bahwa Tuhanlah satu-satunya yang dapat
membantu aku. Aku rajin berdoa dan setiap pagi sebelum mulai kegiatan sekolah
aku selalu menyempatkan diri ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus pagi. Gereja
itu masih satu kompleks dengan SMA Cahaya, sehingga dengan mudah aku bisa
selalu beribadah. Aku rutin mengikuti
ibadah pagi. Apabila itu terlewati, rasanya ada sesuatu yang hilang, walaupun
di kelas juga setiap paginya ada renungan pagi, sebelum memulai pelajaran.
Orangtua dan keluarga adalah sumber semangatku. Aku belajar
dengan baik, aku selalu berusaha untuk bisa memahami setiap pelajaranku.
Setelah pulang sekolah, aku meluangkan waktu untuk mengulang kembali pelajaran
yang aku pelajari tadi disekolah, mengerjakan tugas dan memperisapkan pelajaran
untuk esok harinya.
Puji Tuhan, usahaku diberkati dan membuahkan hasil yang
sangat memuaskan. Aku berhasil menjadi siswa terbaik. Di semester pertama aku
menjapat juara satu disekolah. Aku sangat senang, aku bisa membuat orang tua,
abang-kakak dan keluarga lainnya dan teman-teman di kampung bangga. “Terima
kasih Tuhan, Engkau selalu menyertai aku dimasa-masa hidupku, usahaku tidak
sia-sia Tuhan. Engaku memang Allah yang baik. Terima kasih Bapa”.
Mempertahankan jauh
lebih sulit daripada mencapai apa yang sudah kita peroleh. Prestasiku
disekolah, memicuku untuk tetap bertahan. Hari demi hari berlalau, minggu pun
lewat, bulanpun datang, semangatku mulai kendor. Tetapi ketika aku teringat
kembali orang tuaku, semangat itu melonjak kembali. Itulah yang aku lakukan
setiap kali aku merasa lelah, tidak bersemangat untuk belajar. Aku langsung
mengingat dan membayangkan kembali orang tua dan keluargaku. Kekuatan yang luar
biasa aku dapat dari mereka. Itu terbukti sangat ampuh, aku selalu mendapat
predikat juara satu selama aku di SMU Cahaya, tentunya itu juga tidak terlepas
dari bantuan Tuhan. Tuhan selalau memberi aku semangat dan motivasi yang kuat
untuk melalukan yang terbaik melalaui orang tua dan keluargaku. Terimakasih
Bapaku.
Setelah aku lulus dari SLTP, aku masih bingung mau melantut
ke SMA mana. Yang aku tahu aku harus masuk sekolah terbaik, tapi itu dimana aku
belum tahu pasti. Ada beberapa sekolah yang menjadi incaranku dan beberapa
diantaranya berada di kota Medan.
Tidak kebetulan, abangku bekerja di Medan. (Semuanya sudah
diatur dan direncakan oleh Tuhan dengan sedemikain rupa). Aku beranikan diri
untuk memilih sekolah di Medan, karena aku ingin memperluas wawasan dan
menambah pengalaman, sekaligus mendidik aku untuk bisa menjadi manusia yang
lebih mandiri lagi. Aku sampaikan itu kepada keluagaku dan mereka setuju dan
mendukung dengan pilihanku. Sebenarnya aku masih ragu, akan pilihanku untuk
pergi merantau, tetapi karena keluaga dan juga teman-teman banyak yang mendukung,
akhirnya aku bulatkan tekat kalau aku akan melanjutkan sekolah di Medan.
Setelah hari pengumuman kelulusan SLTP dan menerima izajah
aku langsung di jemput abang ke Medan. Itu artinya, aku pindah ke kota Medan
dan ini kali pertama aku tinggal berpisah dari orang tuaku. Jujur, aku tidak
yakin aku akan sanggup dan betah berpisah dari keluarga besarku, tapi semoga
aku bisa, amin.
Inilah awal hidup baruku di tanah perantauan untuk menimba
ilmu demi masa depan yang lebih baik. Itulah harapanku. Perjuangan baru pun
dimulailah ketika aku sudah terdaftar resmi sebagai siswa SMU baru di salah
satu sekolah swasta yang berada dibawah Yayasan Katolik, nama sekolah itu
adalah SMU Cahaya. Sekolah ini adalah salah satu sekolah bonavit di kota Medan
dan aku bisa berada didalamnya sudah sepatut dan selayaknya lah aku bisa
bersyukur kepada Tuhan.
Minggu pertama di Medan, aku benar-benar seperti orang yang
hilang, terasing disuatu tempat, dimana tempati itu benar-benar berbeda dengan
asal aku berada. Bentuk rumahnya, orang-orangnya, cara bicaranya, aktivitasnya
dan segala macam tetek bengek sosial dan budayanya, semuanya berbeda. Dan sama
seperti kebanyakan orang, aku merasa tidak nyaman dengan perubahan, walaupun
pada akhirnya perubahan itu membawa dampak kehidupan yang lebih baik. Memang
diperlukan pengorbanan yang tidak kecil untuk memperluas wawasan, menambah
pengalaman dan pelajaran yang menjadikan manusia mandiri.
Diperlukan waktu dan proses yang sangat menyakitkan untuk
bisa beradaptasi dilingkungan baru, itulah yang aku alami. Mulanya, aku tidak tahu apakah aku harus
senang atau sedih tinggal di kota terbesar ke-3 di Indonesia ini. Yang jelas,
aku merasa asing dan sangat tidak nyaman, aku belum bisa beradaptasi dengan
lingkungan baru ini, dimana aku tinggal paling tidak selama 3 tahun sampai aku
lulus dari SMU. Rasanya, waktu itu akan berjalan dengan lama sekali. Itulah
yang harus aku perjuangkan.
Hari pertama sekolah aku hanya bisa berdoa: “Ya Tuhan, tolong
aku, agar aku bisa beradaptasi di sini”. Aku bertemu dengan orang-orang baru
yang seusia dengan aku, teman-teman siswa baru. Mereka semua ramah dan baik. Aku
merasa kesepaian ditengah orang banyak, aku merasa kehilangan ditanah lapang
yang sangat luas ditengah gedung sekolah yang megah dan indah.
Aku melihat orang disekelilingku dan tak jarang juga aku
bertemu dengan sesama perantau. Tetapi tetap saja, entah mengapa aku tidak percaya
diri bergaul dengan mereka. Aku minder, aku merasa seperti orang yang bodoh dan
seperti orang yang tidak punya harapan. Hatiku, pikiranku, akal budiku kacau,
dihantui oleh ketidaknyamanan. Aku gelisah, aku bingung, aku cemas, aku
khawatir dan aku takut.
O iya, aku hampir lupa menceritakan kalau aku juga pernah
mengikuti ujian masuk seminari di kota Pemantang Siantar. Aku ingin menjadi
biarawan. Aku senang melihat kehidupan pastor dan aku ingin menjadi pastor.
Caturwulan ke-2 di kelas 3 SLTP aku mengikuti ujian tersebut ditemani oleh
beberapa orang dari paroki Kabanjahe dengan asal berbagai sekolah.Aku mengikuti ujian ini selama 3 hari. Hari
pertama ujian tes kemampuan umum. Hari kedua ters psikologi dan tes kesehatan,
dan hari berikutnya tes wawancara. Hasilnya sangat memuaskan, aku lulus. Dan
dinyatakan memiliki hasil ujian tertinggi dari semua peserta yang mengikuti
ujian tersebut. Pastor parokiku pun menjadi bangga dan senang, tetapi ternyata
orangtuaku tidak menyetujui aku masuk seminari. Huuhuuhuhu… terpaksa deh, aku
melepaskan keinginanku untuk menjadi seorang imam. Yah aku berkesimpulan, kalau
aku memang tidak dipanggil untuk menjadi seorang biarawan. Kalau Tuhan
berkehendak aku untuk menjadi Pastor, tentunya Tuhan akan membantu aku untuk menjadi
Imam, sekarang aku yakin kalau memang panggilan hidupku bukan untuk menjadi
biarawan. Tetapi prinsip dalam hidupku adalah seorang pelayan Tuhan tidak hanya
mereka yang menjadi biarawan atau biarawati, tetapi setiap orang yang percaya
adalah hamba Tuhan, termasuk aku. Jadi apapun yang aku lakukan adalah harus
dengan motivasi yang benar yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Dimanapun nantinya aku
ditempatkan, aku harus menjadi anak Tuhan yang setia, yang bisa dipercaya,
bertanggung jawab dan produktif.
Rasanya perlu dan seru juga, jika aku mencritakan perjuangan
hidupku diluar jam sekolah. Gembala
adalah seorang yang pekerjaan sehari-hari adalah menggembalakan atau beternak
sapi atau kerbau, atau domba atau hewan pemakan rumput lainnya. Sehari-harinya,
tugasnya adalah memelihara dan merawat ternak tersebut. Aku menggembalakan kerbau.
Sejak aku masih belum sekolah, orang tuaku sudah berwiraswasta
dengan memelihara hewan ternak, yaitu kerbau. Kerbau-kerbau yang kurang gizi
atau kerbau kurus dan kerbau yang masih kecil dipelihara baik-baik dan diberi
makan yang banyak dan sampai pada akhirnya kerbau bertambah besar dan
gemuk-gemuk baru dijual kembali. Emang jika dibaca doang, sepertinya pekerjaan
itu mudah. Tetapi proses pelaksanaanya butuh waktu dan kerja keras yang tidak
mudah sama sekali. Dalam proses itulah aku terlibat. Capeknya luar biasa.
Setiap pulang sekolah, pekerjaan wajib yang harus aku lakukan adalah mencari
beberapa goni rumput untuk makanan kerbau. Hampir setiap hari, setelah pulang
sekolah aku tidak pernah sempat untuk istirahat sejenak. Setelah selesai makan,
aku langsung bergegas mencari rumput, soalnya jika tidak demikian, aku tidak
sempat menyelesaikan pekerjaan itu. Jika hal itu terjadi, maka aku akan
mendapatkan omelan yang membuat telingaku panas dan hatiku menangis. Mau tidak
mau, aku harus menyelesaikan tugas itu setiap harinya. Hampir tidak pernah aku
memiliki waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayaku sepulang sekolah.
Tetapi aku mengerjakannya dengan penuh semangat.
Aku mendapat kepercaayan penuh untuk tugas itu sejak aku
kelas 1 SLTP. Sore hari, aku menggiring pulang kerbau-kerbau itu ke kandang
dengan menggunakan gerobak sederhana (Greta). Kalau hari libur sekolah, setiap
pagi aku harus mengembalakan kerbau-kerbau itu atau paling tidak aku giring ke
ladang kosong atau ke sawah untuk diberi makan. Kerbau-kerbau itu diikat
sehingga mereka tidak bisa pergi kemana-mana sampai sejauh diameter tali yang
mengikat setiap kerbau. Siang harinya aku harus mencari makan kerbau-kerbau itu
(gagaten) sebanyak 4 goni perharinya. Sore hari kembali aku menggiring kerbau
itu kekandang. Kerbau yang aku gembalakan sampai 5 atau 6 ekor. Kerbau dengan
jumlah itu digembalakan oleh seorang anak bukan merupakan pekerjaan yang mudah.
Kebau itu hewan yang memiliki sifat yang sangat unik dan sulit untuk ditebak.
Kadang-kadang bisa membuat marah, kesel tetapi kadang-kadang bisa menimbulkan
kepuasan dalam hati.
Melihat keseharianku itu dan karena keterbatasan rumput, maka
orangtuaku membuat peraturan baru. Setiap hari minggu, kami pergi ke daerah
lain untuk mencari rumput sebagai makanan kerbau selama 3 hari. Rumput yang
dicari itu jumlahnya sangat banyak, satu mobil Daihatsu penuh. Mencari rumput
sebanyak itu dalam waktu 3-5 jam merupakan pekerjaan mingguan dan rutin
dikerjakan sampai aku lulus SLTP.
Pernah suatu ketika, tepatnya hari Minggu… pagi-pagi aku
antar kerbau-kerbau itu ke sawah, supaya aku tidak telat beribadah di gereja.
Kerbau yang aku gembalakan itu 6 ekor. Dengan menggunakan greta aku bawa kerbau
itu. 1ekor untuk menarik kreta, 3 ekor lagi di ikat dibelakang greta dan 2 ekor
lainnya aku lepas, karena 2 ekor ini akan mengikuti dari belakang sepanjang
tidak ada yang menarik perhatian mereka, yaitu rumput atau tanaman yang bisa
mereka makan.
Masalah pun tiba, saat gerombolan kerbau yang aku bawa ini
sampai di areal pertanian penduduk di kampungku. Mulai deh.. kerbau-kerbau tadi
beringkah. Mencomot tanaman penduduk di pinggir jalan. Untuk menghindari
semakin banyak tanaman yang dimakan, aku terpaksa turun dari greta dan menarik
kerbau-kerbau tadi. Masalah lain muncul, kerbau yang menari gerta tidak ada
yang mengendalikan, jadi jalannya lambat banget, karena ia juga makan rumput di
tengah jalan sambil jalan. Huh… capek deh… bentar lagi kan nyampe wahai kerbau…
kalian akanbisa makan sepuasnya, tapi
tolong.. sebentar lagi.. setelah kita sampai di sawah… bisa ga sih kita
jalannya cepat????. Aku lari lagi kedepan untuk naik ke greta mengendalikan
kerbau yang membawa greta, sehingga jalannya lebih cepat. Sementara 2 kerbau
lagi terpaksa aku lepas. Oke.. kerbau yang aku kontrol menjadi terkendali,
tetapi kerbau di belakang bermasalah lagi.. main comot tanaman masyarakat
seenaknya. Huhuh….!!! Aku turun lagi kebelakang, untuk menarik kerbau tadi. Hal
itu berkali-kali aku lakukan sampai tiba di area persawahan. Kebanyangkan
bagaimana capeknya hanya untuk menggiring kerbau saja….??? :)