We Can Do The Great Thing For God, when We Do A Little Things For Others

When We Love God, We Will Serve People

Minggu, 29 April 2012

Jakarta, I’m coming


Suatu ketika, Mamak menanyakan dan meningatkan aku, kapan aku akan berangkat ke Jakarta untuk daftar ulang. Soalnya, aku sepertinya santai-santai saja, tanpa mencari informasi kapan daftar ulang itu dilakukan. Mamak mendesakku untuk bertindak segera. Akupun menghubungi dan bertanya kepada salah satu teman yang sudah berada di UI. Katanya: “Pendaftaran ulang berakhir dalam 2 hari ini”, akupun langsung panik. Dalam 2 hari aku harus mempersiapkan semuanya untuk keberangkatanku ke Jakarta: tiket pesawat belum ada, siapa yang menemani aku ke Jakarta belum tahu, uang belum dipersiapakn berapa jumlah yang harus dibawa, sesampainya di Jakarta kami tinggal dimana, UI dimana letaknya kami sama sekali tidak tahu, dan lain-lainnya.  Aku langsung memberi kabar itu kepada keluargaku. Orang tuaku pun langsung mencarikan tiket pesawat untuk jadwal penerbangan besok paginya.
Orangtuaku dan keluargaku bahkan aku sendiri belum menyiapkan hati untuk hal ini. Agak syok dan panik, semuanya disiapkan dalam 1 hari sebelum keberangktanku. Keluargakupun mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan dan berdoa bersama. Jakarta, I am coming.

Penentuan Masa Depanku


Aku menyebutnya penentuan masa depan karena melalui keputusan yang akan aku ambil itulah gambaran bagaimana aku akan hidup, dibidang apa akan aku bekerja dan bagimana aku akan menghabiskan hidupku. Tentunya tidak terlepas dari campur tangan Sang Maha Kuasa. Masa itu adalah masa dimana aku harus memilih jurusan apa yang akan aku ambil di dunia perguruan tinggi, yang menjadi cikal bakal pekarjaan yang akan aku geluti.
Setelah ujian nasional ditingkat SMU, aku belum yakin aku mau masuk jurusan apa pada saat kuliah nantinya. Aku mengikuti berbagai bimbingan belajar sebagai persiapan aku ikut SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).  Aku dapat informasi dari beberapa orang kalau masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntasi Negara)  akan memiliki masa depan yang baik, kuliah dibiayai dan setelah lulus kuliah juga langsung dapat kerja (penempatan kerja). Wow, keren tuh kayaknya. Jadi seketika itu juga aku memutuskan untuk mau masuk STAN. Aku tinggalkan bimbelku, aku ikut kursus untuk persiapan ujian masuk STAN. Aku belajar giat untuk STAN ini.
Aku tidak mau mengabil risiko jadi aku ikut ujian STAN dan SPMB juga. Yang menjadi masalah sekarang adalah SPMBnya. Aku belum tahu mau ambil jurusan apa. Yang aku tahu bahwa UI (Universita Indonesia) dan ITB (Institut Teknologi Bandung) merupakan universitas yang sangat difavoritkan di Indonesia. Ditengah-tengah kebingunganku akan masa depan, aku memilih 2 universitas itu sebagai target dan tujuan masa depanku setelah STAN. Tapi mau juruasn apa???
Bingung… Aku coba buka buku yang bersisi tentang juruan-jurusan yang ada di universitas. Setelah aku liat, banding-bandingkan,piker-pikirkan, sepertinya jurusan FIK UI (Fakultas Ilmu Keperawatan) dan Teknik Geologi ITB adalah jurusan yang cocok untukku, aku pasti bisa lulus di salah satu jurusan itu, yang manapun dari 2 itu, yang terpenting aku bisa lulus di univeritas yang banyak diidam-idamkan di negeri ini. Yah walapun nantinya aku tidak lulus di STAN, aku masih bisa punya cadangan yang lain. Itu artinya 2 untiversitas itu adalah tujuanku setelah STAN. Itu akan membuatku cukup berbangga hati.
Aku ikuti ujian STAN dan SPMB. Pengumuman hasil SPMB lebih dahulu keluar dari hasil ujian STAN. Hasil SPMB menyatakan aku lulus di FIK UI, sementara hasil ujian STAN belum keluar. Aku masih berharap kalau aku bisa lulus di STAN dan sambil menunggu pengumuman itu aku harus melakukan daftar ulang di FIK UI, sebagai cadangan bagimana masa depanku. Oke, keputusan itu telah aku ambil, aku tidak boleh mengambil risiko, aku akan melakukan daftar ulang di FIK UI.

Orang Tua, Keluarga… Mereka Adalah Sumber Inspirasiku



Aku menyadari satu hal yang menyebabkan aku belum nyaman adalah, ketidaksiapanku berpisah dengan kedua orang tuaku. Aku masih sering sekali mengingat dan membayangkan mereka bekerja keras di ladang. Selama ini, aku bisa membantu mereka, meringankan beban mereka. Apalagi pada saat itu, beternak kerbau masih menjadi salah satu rutinitas keluargaku. Aku sedih membayangkan itu semua, orang tuaku harus mengerjakan semuanya tanpa dibantu orang lain. Tanpa aku, yang selama ini masih bisa meringankan beban mereka untuk mengurusi kerbau dan pekerjaan kecil lainnya. Aku sedih sekali, air matapun menetes dan membasahi pipiku. Aku sedih setiap kali aku mengingat orang tuaku dan itu juga yang memotivasi dan memberi semangat kepadaku, agar aku bisa bertahan dan membetahkan diri di kota ini. Aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar orang tuaku dijaga dan diberi kekuatan serta kesehatan.  Aku sangat menyayangi mereka. Aku semakin menyadiri kalau keluarga adalah salah satu kado terindah yang dianugrahkan Tuhan dalam hidupku.
Dalam rasa gundah gulana yang aku alami itu, aku menanamkan satu tekad bahwa aku harus memberikan yang terbaik dalam sekolahku dan membuat keluargaku menjadi bangga kepadaku. Aku harus rajin belajar dan tidak boleh neko-neko. Aku harus selalu di jalan yang lurus dan benar. Aku tidak boleh membuat orang tuaku dan keluarga besarku kecewa dan membiarkan usaha dan kerja keras mereka berlalu begitu saja, tidak boleh sia-sia tanpa memberikan sesuatu yang membuat mereka tersenyum. Senyum kebanggan yang dari Tuhan.
Aku menyadari, bahwa Tuhanlah satu-satunya yang dapat membantu aku. Aku rajin berdoa dan setiap pagi sebelum mulai kegiatan sekolah aku selalu menyempatkan diri ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus pagi. Gereja itu masih satu kompleks dengan SMA Cahaya, sehingga dengan mudah aku bisa selalu beribadah.  Aku rutin mengikuti ibadah pagi. Apabila itu terlewati, rasanya ada sesuatu yang hilang, walaupun di kelas juga setiap paginya ada renungan pagi, sebelum memulai pelajaran.
Orangtua dan keluarga adalah sumber semangatku. Aku belajar dengan baik, aku selalu berusaha untuk bisa memahami setiap pelajaranku. Setelah pulang sekolah, aku meluangkan waktu untuk mengulang kembali pelajaran yang aku pelajari tadi disekolah, mengerjakan tugas dan memperisapkan pelajaran untuk esok harinya.
Puji Tuhan, usahaku diberkati dan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Aku berhasil menjadi siswa terbaik. Di semester pertama aku menjapat juara satu disekolah. Aku sangat senang, aku bisa membuat orang tua, abang-kakak dan keluarga lainnya dan teman-teman di kampung bangga. “Terima kasih Tuhan, Engkau selalu menyertai aku dimasa-masa hidupku, usahaku tidak sia-sia Tuhan. Engaku memang Allah yang baik. Terima kasih Bapa”.

Mempertahankan jauh lebih sulit daripada mencapai apa yang sudah kita peroleh. Prestasiku disekolah, memicuku untuk tetap bertahan. Hari demi hari berlalau, minggu pun lewat, bulanpun datang, semangatku mulai kendor. Tetapi ketika aku teringat kembali orang tuaku, semangat itu melonjak kembali. Itulah yang aku lakukan setiap kali aku merasa lelah, tidak bersemangat untuk belajar. Aku langsung mengingat dan membayangkan kembali orang tua dan keluargaku. Kekuatan yang luar biasa aku dapat dari mereka. Itu terbukti sangat ampuh, aku selalu mendapat predikat juara satu selama aku di SMU Cahaya, tentunya itu juga tidak terlepas dari bantuan Tuhan. Tuhan selalau memberi aku semangat dan motivasi yang kuat untuk melalukan yang terbaik melalaui orang tua dan keluargaku. Terimakasih Bapaku.

Merantau



Setelah aku lulus dari SLTP, aku masih bingung mau melantut ke SMA mana. Yang aku tahu aku harus masuk sekolah terbaik, tapi itu dimana aku belum tahu pasti. Ada beberapa sekolah yang menjadi incaranku dan beberapa diantaranya berada di kota Medan.
Tidak kebetulan, abangku bekerja di Medan. (Semuanya sudah diatur dan direncakan oleh Tuhan dengan sedemikain rupa). Aku beranikan diri untuk memilih sekolah di Medan, karena aku ingin memperluas wawasan dan menambah pengalaman, sekaligus mendidik aku untuk bisa menjadi manusia yang lebih mandiri lagi. Aku sampaikan itu kepada keluagaku dan mereka setuju dan mendukung dengan pilihanku. Sebenarnya aku masih ragu, akan pilihanku untuk pergi merantau, tetapi karena keluaga dan juga teman-teman banyak yang mendukung, akhirnya aku bulatkan tekat kalau aku akan melanjutkan sekolah di Medan.
Setelah hari pengumuman kelulusan SLTP dan menerima izajah aku langsung di jemput abang ke Medan. Itu artinya, aku pindah ke kota Medan dan ini kali pertama aku tinggal berpisah dari orang tuaku. Jujur, aku tidak yakin aku akan sanggup dan betah berpisah dari keluarga besarku, tapi semoga aku bisa, amin.
Inilah awal hidup baruku di tanah perantauan untuk menimba ilmu demi masa depan yang lebih baik. Itulah harapanku. Perjuangan baru pun dimulailah ketika aku sudah terdaftar resmi sebagai siswa SMU baru di salah satu sekolah swasta yang berada dibawah Yayasan Katolik, nama sekolah itu adalah SMU Cahaya. Sekolah ini adalah salah satu sekolah bonavit di kota Medan dan aku bisa berada didalamnya sudah sepatut dan selayaknya lah aku bisa bersyukur kepada Tuhan.
Minggu pertama di Medan, aku benar-benar seperti orang yang hilang, terasing disuatu tempat, dimana tempati itu benar-benar berbeda dengan asal aku berada. Bentuk rumahnya, orang-orangnya, cara bicaranya, aktivitasnya dan segala macam tetek bengek sosial dan budayanya, semuanya berbeda. Dan sama seperti kebanyakan orang, aku merasa tidak nyaman dengan perubahan, walaupun pada akhirnya perubahan itu membawa dampak kehidupan yang lebih baik. Memang diperlukan pengorbanan yang tidak kecil untuk memperluas wawasan, menambah pengalaman dan pelajaran yang menjadikan manusia mandiri.
Diperlukan waktu dan proses yang sangat menyakitkan untuk bisa beradaptasi dilingkungan baru, itulah yang aku alami.  Mulanya, aku tidak tahu apakah aku harus senang atau sedih tinggal di kota terbesar ke-3 di Indonesia ini. Yang jelas, aku merasa asing dan sangat tidak nyaman, aku belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru ini, dimana aku tinggal paling tidak selama 3 tahun sampai aku lulus dari SMU. Rasanya, waktu itu akan berjalan dengan lama sekali. Itulah yang harus aku perjuangkan.
Hari pertama sekolah aku hanya bisa berdoa: “Ya Tuhan, tolong aku, agar aku bisa beradaptasi di sini”. Aku bertemu dengan orang-orang baru yang seusia dengan aku, teman-teman siswa baru. Mereka semua ramah dan baik. Aku merasa kesepaian ditengah orang banyak, aku merasa kehilangan ditanah lapang yang sangat luas ditengah gedung sekolah yang megah dan indah. 
Aku melihat orang disekelilingku dan tak jarang juga aku bertemu dengan sesama perantau. Tetapi tetap saja, entah mengapa aku tidak percaya diri bergaul dengan mereka. Aku minder, aku merasa seperti orang yang bodoh dan seperti orang yang tidak punya harapan. Hatiku, pikiranku, akal budiku kacau, dihantui oleh ketidaknyamanan. Aku gelisah, aku bingung, aku cemas, aku khawatir dan aku takut.

Aku Si Calon Biarawan


O iya, aku hampir lupa menceritakan kalau aku juga pernah mengikuti ujian masuk seminari di kota Pemantang Siantar. Aku ingin menjadi biarawan. Aku senang melihat kehidupan pastor dan aku ingin menjadi pastor. Caturwulan ke-2 di kelas 3 SLTP aku mengikuti ujian tersebut ditemani oleh beberapa orang dari paroki Kabanjahe dengan asal berbagai sekolah.  Aku mengikuti ujian ini selama 3 hari. Hari pertama ujian tes kemampuan umum. Hari kedua ters psikologi dan tes kesehatan, dan hari berikutnya tes wawancara. Hasilnya sangat memuaskan, aku lulus. Dan dinyatakan memiliki hasil ujian tertinggi dari semua peserta yang mengikuti ujian tersebut. Pastor parokiku pun menjadi bangga dan senang, tetapi ternyata orangtuaku tidak menyetujui aku masuk seminari. Huuhuuhuhu… terpaksa deh, aku melepaskan keinginanku untuk menjadi seorang imam. Yah aku berkesimpulan, kalau aku memang tidak dipanggil untuk menjadi seorang biarawan. Kalau Tuhan berkehendak aku untuk menjadi Pastor, tentunya Tuhan akan membantu aku untuk menjadi Imam, sekarang aku yakin kalau memang panggilan hidupku bukan untuk menjadi biarawan. Tetapi prinsip dalam hidupku adalah seorang pelayan Tuhan tidak hanya mereka yang menjadi biarawan atau biarawati, tetapi setiap orang yang percaya adalah hamba Tuhan, termasuk aku. Jadi apapun yang aku lakukan adalah harus dengan motivasi yang benar yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Dimanapun nantinya aku ditempatkan, aku harus menjadi anak Tuhan yang setia, yang bisa dipercaya, bertanggung jawab dan produktif.

Aku Anak Gembala


Rasanya perlu dan seru juga, jika aku mencritakan perjuangan hidupku diluar jam sekolah.  Gembala adalah seorang yang pekerjaan sehari-hari adalah menggembalakan atau beternak sapi atau kerbau, atau domba atau hewan pemakan rumput lainnya. Sehari-harinya, tugasnya adalah memelihara dan merawat ternak tersebut.  Aku menggembalakan kerbau.
Sejak aku masih belum sekolah, orang tuaku sudah berwiraswasta dengan memelihara hewan ternak, yaitu kerbau. Kerbau-kerbau yang kurang gizi atau kerbau kurus dan kerbau yang masih kecil dipelihara baik-baik dan diberi makan yang banyak dan sampai pada akhirnya kerbau bertambah besar dan gemuk-gemuk baru dijual kembali. Emang jika dibaca doang, sepertinya pekerjaan itu mudah. Tetapi proses pelaksanaanya butuh waktu dan kerja keras yang tidak mudah sama sekali. Dalam proses itulah aku terlibat. Capeknya luar biasa. Setiap pulang sekolah, pekerjaan wajib yang harus aku lakukan adalah mencari beberapa goni rumput untuk makanan kerbau. Hampir setiap hari, setelah pulang sekolah aku tidak pernah sempat untuk istirahat sejenak. Setelah selesai makan, aku langsung bergegas mencari rumput, soalnya jika tidak demikian, aku tidak sempat menyelesaikan pekerjaan itu. Jika hal itu terjadi, maka aku akan mendapatkan omelan yang membuat telingaku panas dan hatiku menangis. Mau tidak mau, aku harus menyelesaikan tugas itu setiap harinya. Hampir tidak pernah aku memiliki waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayaku sepulang sekolah. Tetapi aku mengerjakannya dengan penuh semangat.

Aku mendapat kepercaayan penuh untuk tugas itu sejak aku kelas 1 SLTP. Sore hari, aku menggiring pulang kerbau-kerbau itu ke kandang dengan menggunakan gerobak sederhana (Greta). Kalau hari libur sekolah, setiap pagi aku harus mengembalakan kerbau-kerbau itu atau paling tidak aku giring ke ladang kosong atau ke sawah untuk diberi makan. Kerbau-kerbau itu diikat sehingga mereka tidak bisa pergi kemana-mana sampai sejauh diameter tali yang mengikat setiap kerbau. Siang harinya aku harus mencari makan kerbau-kerbau itu (gagaten) sebanyak 4 goni perharinya. Sore hari kembali aku menggiring kerbau itu kekandang. Kerbau yang aku gembalakan sampai 5 atau 6 ekor. Kerbau dengan jumlah itu digembalakan oleh seorang anak bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Kebau itu hewan yang memiliki sifat yang sangat unik dan sulit untuk ditebak. Kadang-kadang bisa membuat marah, kesel tetapi kadang-kadang bisa menimbulkan kepuasan dalam hati.
Melihat keseharianku itu dan karena keterbatasan rumput, maka orangtuaku membuat peraturan baru. Setiap hari minggu, kami pergi ke daerah lain untuk mencari rumput sebagai makanan kerbau selama 3 hari. Rumput yang dicari itu jumlahnya sangat banyak, satu mobil Daihatsu penuh. Mencari rumput sebanyak itu dalam waktu 3-5 jam merupakan pekerjaan mingguan dan rutin dikerjakan sampai aku lulus SLTP.
Pernah suatu ketika, tepatnya hari Minggu… pagi-pagi aku antar kerbau-kerbau itu ke sawah, supaya aku tidak telat beribadah di gereja. Kerbau yang aku gembalakan itu 6 ekor. Dengan menggunakan greta aku bawa kerbau itu. 1ekor untuk menarik kreta, 3 ekor lagi di ikat dibelakang greta dan 2 ekor lainnya aku lepas, karena 2 ekor ini akan mengikuti dari belakang sepanjang tidak ada yang menarik perhatian mereka, yaitu rumput atau tanaman yang bisa mereka makan.
Masalah pun tiba, saat gerombolan kerbau yang aku bawa ini sampai di areal pertanian penduduk di kampungku. Mulai deh.. kerbau-kerbau tadi beringkah. Mencomot tanaman penduduk di pinggir jalan. Untuk menghindari semakin banyak tanaman yang dimakan, aku terpaksa turun dari greta dan menarik kerbau-kerbau tadi. Masalah lain muncul, kerbau yang menari gerta tidak ada yang mengendalikan, jadi jalannya lambat banget, karena ia juga makan rumput di tengah jalan sambil jalan. Huh… capek deh… bentar lagi kan nyampe wahai kerbau… kalian akan  bisa makan sepuasnya, tapi tolong.. sebentar lagi.. setelah kita sampai di sawah… bisa ga sih kita jalannya cepat????. Aku lari lagi kedepan untuk naik ke greta mengendalikan kerbau yang membawa greta, sehingga jalannya lebih cepat. Sementara 2 kerbau lagi terpaksa aku lepas. Oke.. kerbau yang aku kontrol menjadi terkendali, tetapi kerbau di belakang bermasalah lagi.. main comot tanaman masyarakat seenaknya. Huhuh….!!! Aku turun lagi kebelakang, untuk menarik kerbau tadi. Hal itu berkali-kali aku lakukan sampai tiba di area persawahan. Kebanyangkan bagaimana capeknya hanya untuk menggiring kerbau saja….??? :)