We Can Do The Great Thing For God, when We Do A Little Things For Others

When We Love God, We Will Serve People

Jumat, 06 Mei 2011

Presentasi Kasus: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan BPH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Peningkatan usia harapan hidup masyarakat Indonesia semakin lama semakin meningkat. Jika tahun 1980 Usia Harapan Hidup (UHH) masyarakat Indonesia adalah 52,2 tahun dan pada tahun 2006 UHH meningkat menjadi 66, 2 tahun. Peningkatan UHH terjadi lagi pada tahun 2010 menjadi 67, 4 tahun. Sepuluh tahun kemudian, perkiraan UHH penduduk Indonesia sekitar 71, 1 tahun (www.menkokesra.go.id). Hal ini memberikan arti bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia juga meningkat.
Peningkatan penduduk lansia dan UHH masyarakat Indonesia akan membawa dampak pada perubahan pola penyakit di Indoesia. Salah satu penyakit yang meningkat presetasenya seiring dengan peningkatan UHH adalah penyakit degeneratif. Salah satu penyakit degeneratif tersebut dapat menimbulkan gangguan pada saluran kencing.
Gangguan saluran kencing bisa dialami semua orang. Terlebih pada laki-laki paruh baya gangguan seperti sering bolak-balik ke kamar kecil, merasa kencing tidak tuntas, dan harus menunggu ketika akan berkemih semakin sering terjadi. Gejala urinarius seperti tersebut diatas dapat ditimbul akibat masalah pada prostate. Secara normal, prostat berkembang sesuai dengan pertambahan usia. Dimulai dari ketika ukuran kecil ketika masih anak-anak terus bertumbuh mencapai 20 gram pada usia 30 tahun. Ukuran prostat akan menetap sampai usia +/- 50 tahun. Pada usia 80 tahun, prostat akan berkembang lagi mencapai berat 35 gram.
Salah satu gangguan prostat yang sering terjadi ialah Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas. Pembesaran prostat ini merupakan proses alamiah yang terjadi pada laki-laki sesuai pertambahan usia akibat bertambahnya sel kelenjar prostat. Berdasarkan penelitian, jika berumur lebih dari 50 tahun, kemungkinan akan mengalami pembesaran prostat adalah 50% dan ketika berusia 80-85 tahun, risiko menderita BPH akan meningkat menjadi 90%.
Penyebab membesarnya prostat ini sampai sekarang belum diketahui pasti, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa proses ini erat kaitannya dengan kadar hormonal dan proses penuaan (aging process). Gangguan hormonal yang dimaksud yaitu dengan bertambah tuanya seorang pria, maka kadar hormon seks pria (androgen) seperti testosteron berkurang, sedangkan hormon seks wanita berupa estrogen yang dalam keadaan normal didapati dalam jumlah sangat sedikit pada pria menjadi meningkat. Hal tersebut yang diduga menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel prostat/ hyperplasia prostate.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya hyperplasia dari prostat pada usia lanjut berkorelasi dengan pertambahan umur. Perbesaran ini bersifat lunak dan tidak memberikan gangguan yang berarti. Tetapi, dalam banyak hal dengan berbagai faktor pembesaran ini menekan uretra sedemikian rupa sehingga dapat terjadi sumbatan partial ataupun komplit pada saluran kencing yang menimbulkan berbagai gejala.
Gejala BPH dapat digolongkan menjadi dua, yaitu gejala obstruktif (pembuntuan) dan gejala iritatif (iritasi). Gejala obstruktif meliputi hesitancy (menunggu untuk memulai kencing), pancaran kencing lemah, pancaran kencing terputus-putus, tidak puas saat selesai berkemih, rasa ingin kencing lagi sesudah kencing dan keluarnya sisa kencing atau tetesan urine pada akhir berkemih. Sementara gejala iritatif adalah frekuensi kencing yang tidak normal (terlalu sering), terbangun di tengah malam karena sering kencing, sulit menahan kencing, dan rasa sakit waktu kencing serta bisa juga terjadi hematuria (kencing berdarah).
Gejala-gejala BPH semakin lama akan semakin parah, dan akan menyebabkan laki-laki yang mengalaminya akan mencari pelayanan kesehatan seperti rumahsakit. Jumlah persentase pasien penderita BPH yang datang ke RSUP Fatmawati semakin tahun semakin meningkat. Data dari buku besar lantai IV Selatan Irna B RSUP Fatmawati menunjukkan peningkatan tersebut. Bulan November 2010 jumlah pasien dengan BPH berjumlah 7 orang, Desember berjumlah 10 orang. Pada tahun 2011 ini jumlah penderita BPH yang dirawat di lantai IV Selatan berjumlah 13 orang.
Peningkatan jumlah tersebut diharapkan diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan. Asuhan keperawatan yang diberikan harus komprehensif dan holstik melebihi harapan pelanggan, sesuai dengan visi RSUP Fatmawati.  Perawat perlu memahami kembali kalau proses keperawatan merupakan suatu proses pemecahan masalah yang digunakan perawat dalam berinteraksi dengan pasien, keluarga atau orang yang penting bagi klien di dalam memberikan asuhan keperawatan. Konsep tersebut hendaknya diterapkan juga dalam asuhan keperawatan pada klien dengan BPH.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka penulis merasa penting sekali untuk membahas terkait konsep dasar penyakit BPH dan asuhan keperawatannya, sehingga perawat dapat mengaplikasikan metode pemecahan masalah ilmiah dalam praktik keperawatan dan untuk itu perawat membutuhkan kemampuan berpikir kritis terkait penyakit BPH. Kemampuan berpikir kritis perawat dapat diasah melalui proses keperawatan dalam membentuk kerangka kerja yang menopang praktik keperawatan dan dokumentasinya.

B.     Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang penyakit  dan proses keperawatan pada klien dengan Benigna prostate hyperplasia.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusunya adalah:
ü  Memahami konsep dasar penyakit BPH
ü  Memahami proses keperawatan dan asuhan keperawatan klien dengan BPH, terkait 5 proses keperawatan; pengkajian klien dengan BPH, perumusan dignosa keperawatan pada klien dengan BPH, menyusun rencana keperawatan pada klien dengan BPH,  implementasi keperawatan, mengevaluasi intervensi keperawatan pada klien dengan BPH.
ü  Mengidentifikasi kesenjangan antara terori dan kasus.
ü  Mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat dan solusi dalam penyelesaian masalah.
ü  Memberikan gambaran pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien dengan BPH.


C.    Manfaat Penulisan
a.    Secara Teoritis
Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru atau  paling tidak mengingatkan kembali tentang konsep dasar penyakit BPH serta asuhan keperawatan pada klien dengan BPH. Dengan demikian, perawat diharapkan semakin menyadari perannya sebagai tenaga kesehatan professional yang perlu meningkatkan ilmu pengetahuan dan kualitas kerja yang efektif dan efesien dengan menjadikan makalah ini sebagai sumber referensi tentang proses keperawatan klien dengan BPH.
b.    Secara Aplikatif
Manfaat aplikatif diturunkan dari manfaat teoritis. Makalah ini diharapkan dapat memberikan contoh asuhan keperawatan yang tepat, efektif dan efesien, bermanfaat untuk mendukung proses pemulihan klien dengan BPH.

D.    Ruang Lingkup
Pada makalah ini, penulis membahas tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. MY dengan BPH di ruangan lt. IV selatan, Irna B, RSUP Fatmawati, Jakarta. Pelaksaan tersebut dimulai pada tanggal 21 Maret 2011 sampai 28 Maret 2011.

 E.     Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif yaitu memberikan gambaran secara jelas melalui studi kasus dan studi kepustakaan tentang konsep dasar penyakit BPH dan proses keperawatan pada klien dengan BPH. Gambaran tersebut timbul dari analisa data yang ditemukan. Adapun tekhnik pengumpulan data dalam penulisan makalah ini, antara lain:
a. Studi Kasus
ü  Wawancara yaitu interkasi komunikasi langusung antara perawat dengan klien dan keluarga klien untuk mendapatkan data subjektif tentang masalah yang dihadapi oleh klien maupun keluarganya. Wawancara ini lakukan secara sistematis sesuai tujuan wawancara.
ü  Pemeriksaan fisik head to toe untuk mendapatkan data objektif tentang kondisi klien.
ü  Observasi, pengamatan langsung perawat terhadap kondisi klein.
ü  Studi dokumentasi, yaitu membaca status klien seperti dokumentasi dokter, hasil laboratorium dan hal-hal lain yang diperlukan untuk penyususnan asuhan keperawatan.

b. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan membaca dan mepelajari referensi tentang penyakit BPH dan asuhan keperawatannya. Referensi yang dimaksud dapat berupa buku ataupun informasi dari website/internet.

F.       Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari 5 bab, yaitu bab I pendahuluan, bab II, tinjauan pustaka membahas tentang konsep dasar penyakit dan asuhan keperawatan pada klien dengan BPH.  Bab III, tinjauan kasus untuk memberikan gambaran kasus terkait 5 komponen proses kepewatan; pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi dari proses keperawatan yang diberikan. Bab IV, pembahasan, memberikan penjelasan tentang proses keperawatan yang telah dilakukan dan menemukan kesenjangan antara konsep teoritis dan kasus dilapangan, dan yang terakhir adalah bab V, penutup yang teridiri dari kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR BPH
1.    Pengertian
Benigna Prostat Hiperplasi (BPH) adalah pembesaran jinak kelenjar  prostat,  disebabkan  oleh  karena  hiperplasi  beberapa  atau semua  komponen  prostat  meliputi  jaringan  kelenjar / jaringan fibromuskuler  yang   menyebabkan  penyumbatan   uretra   pars prostatika  ( Lab / UPF  Ilmu  Bedah  RSUD  dr.  Sutomo,  1994  :  193 ). Pendapat  lain  mengatakan  bahwa  BPH  adalah  pembesaran progresif   dari  kelenjar  prostat  (secara  umum  pada  pria  lebih  tua dari  50  tahun)  menyebabkan   berbagai   derajat  obstruksi  uretral dan pembatasan    aliran  urinarius   ( Marilynn,  E.D,  2000 : 671 ).
Penulis menyimpulkan dari  kedua  pengertian  tersebut  bahwa  BPH  adalah  pembesaran  progresif  dari  kelenjar  prostat, bersifat  jinak  disebabkan  oleh  hiperplasi  beberapa  atau  semua komponen  prostat  yang  mengakibatkan  penyumbatan prostatika  dan umumnya  terjadi  pada  pria  dewasa  lebih  dari  50  tahun dan dapat menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius (Doenges, 1999). Obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius artinya terjadinya penumbatan yang mengakibatkan hambatan buang air kecil. sehingga melebihi ukuran normal.

2.    Anatomi dan Fisiologi Prostate
Kelenjar  prostat    terletak  tepat  dibawah  buli – buli  dan mengitari  uretra.  Bagian  bawah  kelenjar  prostat  menempal  pada diafragma  urogenital  atau  sering  disebut  otot  dasar  panggul. Kelenjar  ini  pada  laki  -  laki  dewasa  kurang  lebih sebesar   buah   kemiri,   dengan   panjang   sekitar   3   cm,   lebar 4 cm  dan  tebal  kurang  lebih  2,5  cm.  Beratnya  sekitar  20-25 gram.

Prostate Membesar
 
Normal Prostate
 
Prostat   terdiri   dari   jaringan   kelenjar (50-70%),  jaringan  stroma (penyangga )  dan  kapsul/muscular (30-50%).  Cairan  yang  dihasilkan  kelenjar  prostat bersama  cairan  dari   vesikula  seminalis  dan  kelenjar  cowper merupakan  komponen  terbesar  dari  seluruh  cairan  semen.  Bahan – bahan  yang  terdapat  dalam  cairan  semen  sangat  penting  dalam menunjang   fertilitas,  memberikan  lingkungan  yang  nyaman  dan nutrisi  bagi   spermatozoa  serta  proteksi  terhadap  invasi  mikroba.
Kelainan  pada  prostat  yang  dapat  mengganggu  proses reproduksi  adalah radang (prostatitis).  Kelainan  yang  lain seperti   pertumbuhan   yang   abnormal  (tumor)  baik  jinak maupun  ganas tidak memegang peranan penting pada  proses reproduksi   tetapi   lebih   berperan   pada  terjadinya  gangguan aliran  urin.  Kelainan  yang  disebut  belakangan  ini manifestasinya biasanya pada   laki - laki  usia  lanjut ( FK  UNAIR / RSUD  dr. Soetomo:19).

3.      Etiologi
Penyebab hiperplasia prostat belum diketahui dengan pasti tetapi mungkin akibat adanya perubahan kadar hormon yang terjadi karena proses penuaan. Kasus BPH terus meningkat seriring pertambahan usia harapan hidup. Laki-laki diatas usia 50 tahun, berisiko terkena BPH 50%, 75% diatas usia 75 tahun dan 80% pria yang berusia 80 tahun. Penyakit BPH tidak bisa dicegah, hanya bisa dideteksi dan dilakukan pengobatan --- takdir seorang laki-laki.
Karena  etiologi  yang  belum  jelas   maka  melahirkan beberapa  hipotesa  yang  diduga  timbulnya  hiperplasi  prostat antara  lain  :
1).      Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan  epitel  dan  stroma  dari  kelenjar  prostat mengalami  hiperplasi .
2).      Perubahan  keseimbangan  hormon  estrogen  -  testoteron
Pada  proses  penuaan  pada  pria  terjadi  peningkatan  hormon estrogen  dan  penurunan   testosteron  yang  mengakibatkan hiperplasi  stroma.
3).      Interaksi sel stroma  -  epitel prostat
Peningkatan  epidermal  gorwth  factor  atau  fibroblast   growth factor  dan  penurunan  transforming  growth  factor  beta menyebabkan  hiperplasi  stroma  dan  epitel.
4).      Berkurangnya  kematian sel (apoptosis)
Estrogen  yang  meningkat  menyebabkan   peningkatan  lama hidup  stroma  dan  epitel  dari  kelenjar  prostat.
5).      Teori  sel  stem
Sel  stem  yang  meningkat  mengakibatkan    proliferasi  sel transit.

4.    Gejala Klinis
Gejala pembesaran prostat jinak dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, gejala iritatif, terdiri dari sering buang air kecil (frequency), tergesa-gesa untuk buang air kecil (urgency), buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia), dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence). Kedua, gejala obstruksi, terdiri dari pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong (Incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil (hesitancy), harus mengedan saat buang air kecil (straining), buang air kecil terputus-putus (intermittency), dan waktu buang air kecil memanjang (Birowo dan Raharjo, Pembesaran prostate jinak, diunduh tanggal 5 Januari 2010).
Selain gejala diatas, gejala umum mungkin juga tampak termasuk keletihan, anoreksia (tidak nafsu makan), mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada perut. Gejala dan tanda pada klien yang telah lanjut penyakitnya, misalnya gagal ginjal, peningkatan tekanan darah, denyut nadi, pernafasan cepat, ujung kuku yang pucat, tanda-tanda penurunan mental serta penurunan rangsang sarag. Bila sudah terjadi hidronefrosis atau pionefrosis, ginjal teraba dan ada nyeri di Costo Vertebrae Angularis (CVA) – Bagian pinggang belakang bawah.  Buli-buli yang menegang akibat penumpukan air kencing juga dapat dideteksi dengan palpasi dan perkusi.

5.    Patofisiologi
Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli  (leher kandung kemih) dan daerah prostat meningkat, terjadi penumpukan urin dalam kandung kemih. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai akibatnya, maka otot destusor berkontraksi lebih kuat untuk memompa urin keluar, sehingga menyebabkan perubahan anatomis buli-buli berupa hipertrofi otot destusor, timbul sakulasi atau divertikel (berupa kantong-kantong).

Fase penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka destrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin (penumpukan air kencing dalam kandung kemih) yang selanjutnya dapat menyebabkan komplikasi hidroureter, hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas (gagal ginjal). Infeksi saluran kemih dapat terjadi akibat statis urin, dimana sebagian urin tetap berada dalam saluran kemih dan dapat menjadi media untuk organisme infektif.



Untuk  menegakkan  diagnosis  BPH  dilakukan  beberapa  cara  antara  lain
1.        Anamnesa
Kumpulan  gejala  pada  BPH  dikenal  dengan  LUTS  (Lower  Urinary  Tract  Symptoms)  antara  lain:  hesitansi,  pancaran  urin  lemah,  intermittensi,  terminal  dribbling,  terasa  ada  sisa  setelah  miksi  disebut  gejala  obstruksi  dan  gejala  iritatif  dapat  berupa  urgensi,  frekuensi  serta  disuria. 
2.        Pemeriksaan  Fisik
a.         Dilakukan  dengan  pemeriksaan  tekanan  darah,  nadi  dan  suhu.  Nadi  dapat  meningkat  pada  keadaan  kesakitan  pada  retensi  urin  akut,  dehidrasi  sampai  syok  pada  retensi  urin  serta  urosepsis  sampai  syok - septik.
b.         Pemeriksaan  abdomen  dilakukan  dengan  tehnik  bimanual  untuk  mengetahui  adanya  hidronefrosis,  dan  pyelonefrosis.  Pada  daerah  supra  simfiser  pada  keadaan  retensi  akan  menonjol.  Saat  palpasi  terasa  adanya  ballotemen  dan  klien  akan  terasa  ingin  miksi. Perkusi  dilakukan  untuk  mengetahui  ada  tidaknya  residual  urin.
c.         Penis  dan  uretra  untuk  mendeteksi  kemungkinan  stenose  meatus,  striktur  uretra,  batu  uretra,  karsinoma  maupun  fimosis.
d.        Pemeriksaan  skrotum  untuk  menentukan  adanya  epididimitis
e.         Rectal  touch / pemeriksaan  colok  dubur  bertujuan  untuk  menentukan  konsistensi  sistim  persarafan  unit  vesiko  uretra  dan  besarnya  prostat.  Dengan  rectal  toucher  dapat  diketahui  derajat  dari  BPH,  yaitu :
a).      Derajat  I   =  beratnya  ±  20 gram.
b).      Derajat  II  =  beratnya  antara  20 – 40  gram.
c).      Derajat  III =  beratnya  > 40  gram.
 
3.        Pemeriksaan  Laboratorium
a.         Pemeriksaan  darah  lengkap,  faal  ginjal,  serum  elektrolit  dan  kadar  gula  digunakan  untuk  memperoleh  data  dasar  keadaan  umum  klien. 
b.         Pemeriksaan  urin  lengkap  dan  kultur.
c.         PSA  (Prostatik  Spesific  Antigen)  penting diperiksa  sebagai  kewaspadaan  adanya  keganasan. Apabila PSA < dari 4 ng/ml tak perlu biopsy. Sedangkan untuk PSA 4-10 ng/ml perlu diperiksa Prostate Spesific Antigen Density (PSAD) dimana kadar PSA serum dibagi volume prostate. Bila hasil PSAD ≥ 0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsy prostate, demikian pula bila nilai PSA > 10 ng/ml.

4.        Pemeriksaan  Uroflowmetri
Salah  satu  gejala  dari  BPH  adalah  melemahnya  pancaran  urin.  Secara  obyektif  pancaran  urin  dapat  diperiksa  dengan  uroflowmeter  dengan  penilaian :
a.         Flow  rate  maksimal  >  15 ml / dtk    =  non  obstruktif.
b.         Flow  rate  maksimal 10 – 15  ml / dtk =  border  line.
c.         Flow  rate  maksimal  <  10 ml / dtk    =  obstruktif.

5.        Pemeriksaan  Imaging  dan  Rontgenologik
a).       BOF  (Buik  Overzich ) :Untuk  melihat  adanya  batu  dan  metastase  pada  tulang.
b).     USG  (Ultrasonografi), digunakan  untuk  memeriksa  konsistensi,  volume  dan    besar  prostat  juga  keadaan  buli – buli  termasuk  residual  urin.  Pemeriksaan  dapat  dilakukan  secara  transrektal,  transuretral  dan  supra  pubik. 
c).    IVP  (Pyelografi  Intravena): Digunakan  untuk  melihat  fungsi  exkresi  ginjal  dan  adanya  hidronefrosis.
d).      Pemeriksaan  Panendoskop: Untuk    mengetahui   keadaan  uretra  dan  buli – buli.

7.      Penatalaksanaan
Modalitas  terapi  BPH  adalah :
1.         Watchful  (Observasi)
Yaitu  pengawasan  berkala  pada  klien  setiap  3 – 6   bulan kemudian  setiap  tahun  tergantung  keadaan  klien

2.         Medikamentosa
Terapi  ini  diindikasikan  pada  BPH  dengan  keluhan  ringan, sedang,  dan  berat  tanpa  disertai  penyulit.

3.         Pembedahan
Tindakan operasi ditujukan pada prostat yang telah menimbulkan penyulit tertentu seperti retensi urine (tidak bisa kencing sama sekali), batu saluran kemih, hematuria (terdapat darah pada air kencing), infeksi saluran kemih serta tidak menunjukkan adanya perbaikan setelah diterapi dengan obat-obatan.
Pembedahan  dapat  dilakukan  dengan :
a).    Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy
Massa jaringan prostate hipertropi diangkat melalui insisi abdomen bawah tanpa pembukaan KK.
Ø  Keuntungan:
Menghindari insisi dalam kandung kemih
Memungkinkan dokter bedah untuk melihat dan mengontrol perdarahan
Periode pemulihan lebih lingkat
Kerusakan sfingter KK lebih sedikit
Ø  Kerugian:
Tidak dapat mengobati penyakti KK yang berkaitan
Insiden hemoragi akibat fleksus venosa prostate meningkat.
Ø  Implikasi keperawatan:
Pantau  hemoragi dan antisipasi kebocoran pascaurinari selama beberapa hari setelah melepas kateter.
b).   Perianal Prostatectomy
Massa prostate besar dibawah area pelvis diangkat melalui insisi diantara skrotum dan rectum. Prosesur radikal ini dilakukan untuk kanker dan dapat mengakibatkan impotensi.
Ø  Keuntungan:
o   Memberikan pendekatan anatomis langsung
o   Memungkinkan drainase langsung oleh bantuan gravitasi
o   Terutama efektif untuk terapi kanker radikal
o   Memungkinkan hemostatik dibawah penglihatan langsung.
o   Angka mortalitas rendah
o   Insiden syok lebih rendah
o   Ideal untuk klien dengan prostate besar, pasien yang sangat tua dan ringkih
Ø  Kerugian:
o   Isiden impotensi dan inkontinensia urin pascaoperatif tinggi
o   Kemungkinan kerusakan pada rekctum dan sfingkter eksternal
o   Bidang operatif terbatas dan potensial terhadap infeksi lebih besar.
Ø  Implikasi keperawatan:
o   Hindari menggunakan selang rektal/thermometer dan enema setelah bedah perineal.
o   Gunakan bantalan drainase untuk menyerap drainase urin yang berlebihan
o   Berikan cincin karet busa untuk kenyamanan pasien ketika duduk.
o   Antisipasi kebocoran urin disekitar luka selama beberapa hari setelah kateter dilepas.
c).    Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy
Metode mengakat kelenjar melalui insisi abdomen, diindikasikan untuk massa lebih dari 60 gr. Penghambat jaringan prostate diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih. Pendekatan ini lebih ditujukan apabila ada batu dalam KK.
Ø  Implikasi keperawatan: pantau indikasi hemoragi dan syok. Lakukan perawatan aseptic dengan cermat pada area sekitar suprapubis.

d).   TUIP (Trans-Urethral Incision Of The Prostate)
Prosedur lain untuk menangani BPH dengan cara memasukkan instrument melalui uretra. TUIP menyerupai TURP, tetapi biasanya dilakukan pada penderita yang memiliki prostat relatif kecil (30 gram/kurang). Prosedur ini dapat dilakukan dari klinik rawat jalan dan mempunyai komplikasi yang lebih rendah dibanding bedah prostate lainnya. Pada jaringan prostat dibuat sebuah sayatan kecil untuk melebarkan lubang uretra dan lubang pada kandung kemih, sehingga terjadi perbaikan laju aliran air kemih dan gejala berkurang.

e.       Prostatektomi terbuka.
 Sebuah sayatan bisa dibuat di perut (melalui struktur di belakang tulang kemaluan/retropubik dan diatas tulang kemaluan/suprapubik) atau di daerah perineum (dasar panggul yang meliputi daerah skrotum sampai anus). Pendekatan melalui perineum saat ini jarangn digunakan lagi karena angka kejadian impotensi setelah pembedahan mencapai 50%. Pembedahan ini memerlukan waktu dan biasanya penderita harus dirawat selama 5-10 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah impotensi (16-32%, tergantung kepada pendekatan pembedahan) dan inkontinensia urin (kurang dari 1%).
f. TURP (Trans Uretral Resection Prostate) 
TURP adalah suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat uretra menggunakan resektroskop, dimana resektroskop merupakan endoskop dengan tabung 10-3-F untuk pembedahan uretra yang dilengkapi dengan alat pemotong dan counter yang disambungkan dengan arus listrik. TURP merupakan operasi tertutup tanpa insisi serta tidak mempunyai efek merugikan. Operasi ini dilakukan pada prostat yang mengalami pembesaran antara 30-60 gram, kemudian dilakukan reseksi. Tindakan ini menggunakan cairan pembilas/irigasi supaya daerah yang direseksi tetap terang dan tidak tertutup darah. Jika dibandingkan dengan operasi terbuka, TURP mempunyai beberapa keuntungan, antara lain
  • Tidak menimbulkan luka atau bekas sayatan,
  • Lama operasi singkat,
  • Hospitalisasi dan periode pemulihan lebih singkat.
  • Menimbulkan rasa nyeri yang lebih sedikit.
Kerugiannya: ada risiko obstruksi, trauma uretral dan dapat terjadi striktur serta pedarahan lama dapat terjadi. Oleh karena itu perawat perlu memperhatikan implikasi keperawatannya, antara lain memantau hemoragy dan mengamati adanya gejala-gejala striktur uretra (disuria, mengejan, aliran urin lemah).

Paca TURP, respon fisiologis KK:
·         Inflamasi: nyeri, pelebaran pembuluh darah, pembengkakan.
·         Perdarahan minor selama 24 jam
·         Dieresis post obstruktif
·         Respon syaraf simpatik
Setelah dilakukan TURP, dipasang traksi kateter Foley tiga saluran no. 24 yang dilengkapi balon   30 ml, untuk memperlancar pembuangan gumpalan darah dari kandung kemih. Traksi dapat dikerjakan dengan  merekatkan  ke  paha  klien. Traksi  tidak  boleh  lebih  dari  24  jam karena  dapat  menimbulkan  penekanan  pada  saluran kencing bawah. Setelah  traksi  dilonggarkan fiksasi  dipindahkan pada  paha. Antibiotika  profilaksis  dilanjutkan beberapa  jam  atau  24 – 48  jam  pasca  bedah. Setelah  urin yang  keluar  jernih  kateter  dapat  dilepas. Kateter  biasanya  dilepas  pada  hari ke 3 – 5.  Untuk  pelepasan kateter, diberikan  antibiotika 1 jam  sebelumnya  untuk mencegah  urosepsis.  Biasanya  klien  boleh  pulang  setelah  miksi  baik,  satu  atau  dua  hari  setelah  kateter  dilepas   (Doddy,  M.S, 2000 : 6 ).

Komplikasi yang dapat terjadi setelah operasi TURP adalah : Perdarahan, pembentukan bekuan, kateter tersumbat, impotensi. Pembedahan TURP tidak mengobati penyebab BPH, maka biasanya penyakit ini akan timbul kembali 8-10 tahun kemudian.

Hal-hal yang harus diperhatikan Post Op TURP
Pasca TURP, klien diupayakan banyak minum, agar produksi kencingnya bisa banyak dan lancar, tidak menahan keinginan untuk buang air kecil, menghindari pekerjaan yang berat/ tidak mengangkat beban yang berat, tidak melakukan hubungan seks 6 setelah operasi
Setiap perubahan  yang  terjadi  selalu  menimbulkan  dampak.  Begitu  juga  dengan  individu  yang  telah  dilakukan  tindakan  TURP  akan  mengalami  perubahan  baik  yang  mempengaruhi  individu,  keluarga  maupun  masyarakat. 

a.  Dampak  bagi Pasien
·         Tirah    baring    selama  24  jam  pasca  TURP
·         Klien yang dilakukan pembiusan tidak boleh makan dan minum sebelum flatus.
·         Pada klien dapat terjadi hematuri setelah tindakan TURP.  Obstruksi dapat terjadi bila terdapat bekuan darah pada kateter. 
·         Pada  paha  yang  dilakukan  perekatan  kateter  tidak  boleh  fleksi/ kaki harus tetap diluruskan  selama  traksi  masih  diperlukan.
·         Klien  dapat  mengalami  cemas  karena  kurang  pengetahuan  tentang  perawatan  serta  komplikasi  BPH  pasca  TURP, jadi keluarga harus bisa mendukung dan memberi rasa nyaman kepada klien.
·         Adanya  traksi  kateter memerlukan  adaptasi  klien  dalam  menjalankan  ibadahnya.

b.   Dampak  bagi  keluarga
Dengan  adanya  salah  satu  anggota  keluarga  yang  dirawat  di rumah  sakit  apalagi  sampai  tindakan  operasi  akan  menimbulkan  beban  keluarga  dalam  pembiayaan,  terutama  bila  yang  sakit  adalah  kepala  keluarga,  karena  akan  mempengaruhi  sumber  pendapatan  keluarga.  Dalam  keluarga  dapat  timbul  rasa  cemas  atau  faktor  psikologis  lain  serta  terjadi  perubahan  peran  baik  dalam  pengambilan  keputusan,  mencari  nafkah  maupun  pelindung  keluarga.
c.    Dampak  bagi  masyarakat
Masyarakat  disekitarnya  mungkin  merasa  kehilangan  karena  klien  mengurangi  interaksi  sosial  dengan  masyarakat  dimana  klien  bertempat  tinggal  karena  harus  beradaptasi   dengan  lingkungan  baru.  Apalagi  kalau  klien  adalah  orang  yang  berkedudukan  atau  berpengaruh  dalam  lingkungannya.

8. Pencegahan
Pembesaran prostat adalah suatu  hal yang  normal terjadi pada pria berusia diatas 50 tahun. Kejadiannya meningkat sesuai dengan  pertambahan usia, jadi proses ini tidak dapat dicegah.  Namun beberapa hal yang bermanfat dilakukan untuk memperlambat tejadinya BPH antara lain:
Ø Aktivitas sehari-hari
Immobilisasi (kurang aktivitas) dan udara dingin dapat meningkatkan risiko retensi urin. Jadi menjaga tetap hangat dan latihan (olahraga) akan sangat berguna. Selain itu para pria harus meluangkan waku untuk berkemih saat mulai terasa, meskipun belum ada keinginan untuk BAK.
Ø Faktor Diet
Menghindari alkohol, kopi dan mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia (kencing malam hari). Ada beberapa bukti ilmiah bahwa teh hijau yang mengandung flavonoids, suatu zat kimia yang baik untuk prostat.
Ø Menghindari obat-obatan yang memperburuk gejala
Penderita BPH sebaiknya menghindari obat flu atau obat alergi yang mengandung dekongestan, antihistamin seperti diphenhydramine karena dapat menghambat aliran urin juga.
Ø Latihan KEGEL
 Latihan Kegel atau otot dasar panggul, akan membantu mencegah kebocoran urin. Latihan ini akan memperkuat otot dasar panggul yang menyokong kandung kemih dan menutup sfingter (lubang). Saat berkemih, pasien berusaha untuk mengkontraksikan otot sampai alirannya melambat atau terhenti, kemudian lepaskan lagi. Latihan yang baik 5-15 kali kontraksi, masing-masing ditahan sekitar 10 detik, 3-5 kali sehari.
Ø  Menjaga kebugaran tubuh:
o  Pertahankan berat badan ideal dan berhenti merokok
o  Minum air putih minimal delapan gelas sehari
o  Mengurangi makan daging dan lemak hewan, karena kandungan lemaknya dapat meningkatkan resiko berbagai penyakit
o  Banyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan khususnya yang mengandung antioksidan tinggi.

B.   Asuhan  Keperawatan 

Proses  keperawatan  merupakan  proses  pemecahan  masalah  yang  dinamis  dengan  menggunakan  metode  ilmiah  secara  sistematik  untuk  mengenal  masalah  klien  dan  mencarikan  alternatif  pemecahannya  dalam  rangka  memenuhi   kebutuhan  klien  guna  memperbaiki  dan  meningkatkan  derajat  kesehatan  hingga  tahap  maksimal.  Adapun  tahapan  dari  proses  keperawatan  meliputi  :  pengkajian,  perencanaan,  pelaksanaan  dan  evaluasi  (Nasrul,  E,  1995).
1.             Pengkajian
Pengkajian  adalah  pemikiran  dasar  dari  proses  keperawatan  yang  bertujuan  untuk  mengumpulan  informasi  /  data  tentang  klien,  agar  dapat  mengidentifikasi,  mengenali   masalah,  kebutuhan  kesehatan  dan  keperawatan  klien  baik  fisik,  mental,  sosial  dan  lingkungan  ( Nasrul, E,1995: 18).

a.    Pengumpulan  data
Data  yang  perlu  dikumpulkan  dari  klien  meliputi  :
1).        Identitas  klien
Merupakan  biodata  klien  yang  meliputi  :  nama,  umur,  jenis  kelamin,  agama,  suku  bangsa / ras,  pendidikan,  bahasa  yang  dipakai,  pekerjaan,  penghasilan  dan  alamat.  Jenis  kelamin  dalam  hal  ini  klien  adalah  laki  -  laki  berusia  lebih  dari  50  tahun  dan  biasanya  banyak  dijumpai  pada  ras  Caucasian         (Donna, D.I, 1991  :  1743 ).
2).        Keluhan  utama
Keluhan  utama  yang  biasa  muncul  pada  klien  BPH  pasca  TURP  adalah nyeri  yang  berhubungan  dengan  spasme  buli  -  buli.  Pada   saat   mengkaji   keluhan  utama   perlu  diperhatikan   faktor   yang   mempergawat  atau   meringankan  nyeri  ( provokative / paliative ),  rasa    nyeri    yang    dirasakan  (quality),  keganasan / intensitas  ( saverity )  dan  waktu  serangan,  lama,  kekerapan (time).
3).        Riwayat  penyakit  sekarang
Kumpulan   gejala  yang  ditimbulkan  oleh  BPH  dikenal  dengan    Lower   Urinari  Tract   Symptoms  ( LUTS )  antara  lain  :   hesitansi,  pancar  urin  lemah,  intermitensi,  terminal  dribbling,   terasa  ada  sisa  setelah  selesai  miksi, urgensi,  frekuensi  dan  disuria  (Sunaryo, H,  1999  :  12, 13).
Perlu  ditanyakan  mengenai  permulaan  timbulnya  keluhan,  hal-hal  yang  dapat  menimbulkan  keluhan  dan ketahui  pula  bahwa  munculnya  gejala  untuk  pertama  kali  atau  berulang. 
4).           Riwayat  penyakit  dahulu
Adanya  riwayat  penyakit  sebelumnya  yang  berhubungan  dengan  keadaan  penyakit  sekarang  perlu  ditanyakan . Diabetes  Mellitus,  Hipertensi,  PPOM,  Jantung  Koroner,  Dekompensasi Kordis  dan  gangguan  faal  darah  dapat  memperbesar   resiko  terjadinya   penyulit   pasca   bedah   ( Sunaryo,  H,  1999  :  11,  12,  29 ).  Ketahui  pula adanya riwayat  penyakit  saluran  kencing  dan  pembedahan  terdahulu.
5).           Riwayat  penyakit  keluarga
Riwayat  penyakit  pada  anggota  keluarga  yang  sifatnya  menurun  seperti  :  Hipertensi,  Diabetes  Mellitus,  Asma  perlu  digali .
6).           Riwayat  psikososial
Kaji  adanya emosi  kecemasan, pandangan klien terhadap dirinya  serta  hubungan  interaksi  pasca  tindakan  TURP.
7).           Pola – pola  fungsi  kesehatan    
a). Pola  persepsi  dan  tata  laksana  hidup  sehat
Timbulnya  perubahan  pemeliharaan  kesehatan  karena  tirah  baring  selama  24  jam  pasca TURP.  Adanya  keluhan  nyeri  karena  spasme  buli - buli memerlukan penggunaan  anti  spasmodik  sesuai  terapi  dokter  (Marilynn. E.D,  2000 : 683).
b).    Pola  nutrisi   dan  metabolisme 
Klien  yang  di  lakukan  anasthesi  SAB  tidak  boleh  makan  dan minum  sebelum  flatus.
c).    Pola  eliminasi
Pada  klien  dapat  terjadi  hematuri  setelah  tindakan  TURP.  Retensi  urin  dapat  terjadi  bila  terdapat  bekuan  darah  pada  kateter.  Sedangkan  inkontinensia  dapat  terjadi  setelah  kateter  di  lepas (Sunaryo,  H, 1999: 35)
d). Pola  aktivitas  dan  latihan
Adanya  keterbatasan  aktivitas  karena  kondisi  klien  yang  lemah  dan  terpasang  traksi  kateter  selama  6 – 24  jam.  Pada  paha  yang  dilakukan  perekatan  kateter  tidak  boleh  fleksi  selama  traksi  masih  diperlukan.
e).    Pola  tidur  dan  istirahat
Rasa  nyeri  dan  perubahan  situasi  karena  hospitalisasi dapat  mempengaruhi  pola  tidur  dan  istirahat.
f).     Pola  kognitif  perseptual
Sistem  Penglihatan,  Pendengaran,  Pengecap,  peraba dan Penghidu  tidak  mengalami  gangguan  pasca  TURP.
g).    Pola  persepsi  dan  konsep  diri 
Klien  dapat  mengalami  cemas  karena  ketidaktahuan  tentang  perawatan  dan  komplikasi  pasca  TURP.
h).    Pola  hubungan  dan  peran 
Karena  klien  harus  menjalani  perawatan  di  rumah  sakit  maka  dapat  mempengaruhi  hubungan  dan  peran  klien  baik  dalam  keluarga  tempat  kerja  dan  masyarakat.
i).      Pola  reproduksi  seksual 
Tindakan TURP dapat menyebabkan impotensi dan  ejakulasi  retrograde
j).      Pola  penanggulangan  stress
Stress  dapat  dialami  klien  karena  kurang  pengetahuan  tentang  perawatan dan komplikasi pasca  TURP. Gali adanya  stres  pada  klien  dan  mekanisme  koping  klien  terhadap  stres  tersebut.
8).           Pemeriksaan  fisik
Pemeriksaan   didasarkan  pada  sistem – sistem  tubuh    antara  lain   :
a).    Keadaan  umum
Setelah   operasi  klien  dalam  keadaan  lemah  dan  kesadaran  baik,  kecuali  bila  terjadi  shock. Tensi, nadi  dan  kesadaran  pada  fase awal ( 6 jam )  pasca  operasi  harus  diminitor  tiap jam  dan  dicatat.  Bila  keadaan tetap stabil interval monitoring dapat diperpanjang misalnya 3 jam sekali .
b). Sistem  pernafasan
Klien  yang  menggunakan  anasthesi  SAB  tidak  mengalami  kelumpuhan  pernapasan  kecuali  bila  dengan  konsentrasi 
tinggi  mencapai  daerah  thorakal  atau  servikal  (Oswari,  1989  :  40).
c).    Sistem  sirkulasi
Tekanan  darah  dapat  meningkat  atau  menurun pasca  TURP.  Lakukan  cek  Hb  untuk  mengetahui  banyaknya  perdarahan  dan  observasi  cairan  (infus,  irigasi, per oral)  untuk  mengetahui masukan  dan  haluaran.
d).     Sistem  neurologi
Pada  daerah  kaudal  akan  mengalami  kelumpuhan (relaksasi  otot)  dan  mati  rasa  karena  pengaruh  anasthesi. 
e).      Sistem  gastrointestinal
Anasthesi menyebabkan  klien  pusing,  mual  dan  muntah .Kaji   bising  usus  dan  adanya  massa  pada  abdomen .
f).       Sistem  urogenital
Setelah  dilakukan  tindakan  TURP  klien  akan  mengalami  hematuri . Retensi  dapat  terjadi  bila  kateter  tersumbat  bekuan  darah. Jika  terjadi  retensi  urin,  daerah  supra  sinfiser   akan   terlihat   menonjol,  terasa  ada  ballotemen  jika   dipalpasi   dan   klien   terasa  ingin  kencing  (Sunaryo, H ,1999 : 16).  Residual  urin  dapat  diperkirakan  dengan  cara  perkusi. Traksi  kateter dilonggarkan  selama  6 - 24  jam   (Doddy,  2001 : 6).
g).      Sistem  muskuloskaletal
Traksi  kateter  direkatkan  di  bagian paha  klien. Pada   paha  yang  direkatan  kateter tidak  boleh  fleksi  selama  traksi  masih  diperlukan. (Tim  Keperawatan  RSUD. dr. Soetomo, 1997  :  21).

9).           Pemeriksaan  penunjang
a).      Laboratorik
Setiap penderita pasca TURP harus di cek kadar hemoglobinnya  dan  perlu  diulang  secara  berkala  bila  urin tetap  merah  dan  perlu di periksa ulang bila terjadi penurunan  tekanan  darah  dan  peningkatan  nadi.  Kadar serum  kreatinin  juga perlu  diulang  secara  berkala  terlebih lagi  bila  sebelum operasi kadar kreatininnya meningkat. Kadar  natrium  serum  harus  segera  diperiksa  bila  terjadi  sindroma TURP. Bila terdapat tanda septisemia harus  diperiksa   kultur  urin  dan  kultur  darah  ( Tim   Keperawatan  RSUD dr.  Soetomo, 1997)
b).      Uroflowmetri
       Yaitu  pemeriksaan  untuk  mengukur   pancar  urin.  Dilakukan setelah  kateter  dilepas 
(Lab / UPF Ilmu  bedah RSUD  dr.  Soetomo, 1994 : 114).

b.    Analisa  dan  sintesa  data
Setelah  data  dikumpulkan,  dikelompokkan  dan  dianalisa  kemudian  data  tersebut  dirumuskan  ke  dalam  masalah  keperawatan . Adapun  masalah  yang  mungkin  terjadi  pada  klien  BPH  pasca  TURP  antara  lain  :  nyeri,  retensi  urin,  resiko  tinggi  infeksi, resiko tinggi kelebihan cairan, resiko  tinggi ketidakefektifan  pola  napas,  resiko  tinggi  kekurangan  cairan,  kurang  pengetahuan,  inkontinensia  dan  resiko  tinggi  disfungsi  seksual .  
 
  c.    Diagnosa  keperawatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar